Menemukan kembali metode pendidikan Rasulullah yang Terlupakan

Metode Pendidikan Yang Hilang

Mendidik Hati

┏━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┓
Mendidik Hati
┗━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┛
𝐇𝐨𝐦𝐞 𝐨𝐟 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐚𝐜𝐭𝐞𝐫 𝐄𝐝𝐮𝐜𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧
الأم مدرسة الأولى
𝐀𝐥-𝐔𝐦𝐦𝐮 𝐌𝐚𝐝𝐫𝐚𝐬𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐔𝐥𝐚

Menemukan kembali metode pendidikan Rasulullah yang Terlupakan

Ada apa dengan pendidikan hari ini?

Anak digegas calistung sejak dini, bahkan ketika jari jemarinya belum tumbuh sempurna agar bisa memegang pena.

Manasik haji menjadi kegiatan rutin anak TK yang bahkan belum bisa bersuci mandiri. Mereka telah dipaksakan mempelajari gerakan rukun islam terakhir sebelum bahkan merasakan makma syahadatain.

Anak-anak dijejali berbagai stimulasi buatan agar bisa mencapai standar kompetensi keinginan manusia yang melampaui usianya.

Anak dipaksa beradab sejak dini dengan ketegasan yang melukai.

Niatnya ingin serba cepat agar bisa segera panen hasil. Nyatanya justru melahirkan generasi yang tak lebih layaknya AI. Paham arti tapi tak punya hati.

Bisa membaca huruf, tapi tidak bisa memahami makna.
Cerdas tapi tidak beradab.
Memiliki ilmu dan kekuatan tapi digunakan untuk merusak.

Padahal sarana dan parasana sudah lengkap. Fasilitas mewah papan atas. Tidak lupa kurikulum unggul dengan biaya selangit. Bahkan jadwal belajar yang kian padat. Guru dengan titel lengkap ditambah shadow teacher agar bisa fokus mengobservasi.

Lalu apa yang salah?

Barangkali yang perlu kita lakukan hari ini bukan menambah lebih banyak kegiatan, menambah lebih banyak ceramah, bukan pula menambah ketat pengawasan ataupun levelling up ancaman dan hukuman.

Barangkali ada satu tahapan penting dalam pendidikan yang terlewatkan, yaitu mendidik hati.

Kita Sibuk Mendidik Anak, tetapi Apakah Kita Masih Mengikuti Jalan Rasulullah ﷺ?

Hari ini, dunia parenting berkembang begitu pesat. Berbagai teori pendidikan hadir menawarkan metode terbaik untuk mendidik anak. Kita belajar tentang stimulasi, kecerdasan majemuk, regulasi emosi, kemandirian, kemampuan berpikir kritis, hingga strategi membangun karakter.

Semua itu dapat menjadi sarana yang bermanfaat apabila ditempatkan secara proporsional.

Namun, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah pendidikan yang kita jalankan benar-benar sedang menapaki jalan yang dituntun Rasulullah ﷺ, atau kita justru sedang menempuh jalan lain dengan membawa nama-nama yang terdengar islami?

Pendidikan yang fokus kepada mengasah otak

Sedari kecil kita terkena syubhat pendidikan ala barat yang mengatakan bahwa akal berasal dari aktivitas otak yang cerdas. Sehingga semua pendidikan fokus pada pendidikan akademis yang mengasah kognitif aktivitas dari otak belaka.

Tapi apakah benar demikian adanya?

> Allah berfirman:
> أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ﴿٤٦﴾

> “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj[22]: 46)

Ternyata pusatnya akal untuk bisa memahami adalah qalbu (hati).

Maka, ketika kita sekarang hanya fokus mendidik otak, tidak heran jika sekarang kita banyak melihat…
Orang dengan tingginya ilmu agama, tapi justru tidak sholat.
Orang dengan hafalan mutqin, justru berakhlak buruk bahkan murtad.
Orang dengan IQ tinggi, tapi korupsi
Orang alim dan dihormati namun berzina

Allahul musta’an.

Maka, jika kita lihat kembali bagaimana Rasulullah ﷺ mendidik, hal pertama yang dididik adalah Hati.

Bagaimana Rasulullah mendidik hati?

Mendidik hati adalah proses mendidik di luar logika, namun ia bisa menumbuhkan kesadaran bahkan menyembuhkan luka.

Apa yang engkau lakukan jika anak kecilmu bermain-main di sajadahmu dan menunggangimu ketika sholat?

Secara logika, menasehatinya dan memberikan efek jera agar sang anak tidak mengulanginya kembali bukan?

Tapi tidak dengan mendidik hati.

Ia ﷺ bahkan membiarkan cucunya menungganginya hingga puas bahkan ketika Ia ﷺ menjadi imam sholat.

> Dari Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi kepada kami di dalam salah satu shalat ‘Isya’, ia membawa Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke depan dan meletakkan (Hasan dan Husain), kemudian beliau bertakbir untuk shalat lalu mengerjakan shalat. Saat shalat beliau sujud yang lama, maka ayahku berkata: ‘Lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud’. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat shalat engkau memperlama sujud, hingga kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang diturunkan kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Bukan karena semua itu, tetapi cucuku (Hasan dan Husain) menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau membuatnya terburu-buru, (aku biarkan) hingga ia selesai dari bermainnya’ (HR. Nasa’i)

Apa yang engkau lakukan jika anakmu yang berusia 10 tahun mengulangi kembali kesalahan yang sama atau melupakan janjinya yang sudah engkau nantikan darinya?

Secara logika, menceramahinya, menghukumnya dan memberikan efek jera agar sang anak tidak mengulanginya kembali bukan?

Tapi tidak dengan mendidik hati.

Ia ﷺ tidak marah kepada Anas yang lupa amanahnya, memaafkan kesalahannya, dan mengingatkan amanahnya dengan tersenyum tanpa rasa amarah.

> Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya.
> Pada suatu hari beliau ﷺ menyuruh Anas untuk suatu keperluan. Ia pun menjawab: “Demi Allah, aku tidak mau pergi (seolah-olah Anas tidak mau melakukan perintah Rasulullah ﷺ, namun hal itu terjadi karena beliau masih kecil), akan tetapi dalam hatiku aku bertekad akan pergi untuk melaksanakan perintah Nabi kepadaku.”

> Lalu akhirnya Anas pun pergi, hingga melewati beberapa anak yang sedang bermain-main di pasar.
> Tiba-tiba Rasulullah ﷺ memegang tengkuknya (leher bagian belakang) dari belakang.

> Anas bercerita: “Lalu aku menengok ke arah beliau, dan beliau tersenyum.” Lalu kata beliau: ‘ Wahai, Anas kecil! Sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan?’
> “Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah..”
> Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, selama sembilan tahun aku membantu Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah mengetahui beliau menegurku atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan: “Mengapa kamu melakukan begini dan begitu.” ataupun terhadap apa yang tidak aku kerjakan, dengan perkataan: “Kenapa tidak kamu lakukan begini dan begini.” (HR. Muslim).

Apa yang engkau lakukan jika ketika engkau mengajar atau sedang rapat dengan sejawat kerja lalu anak kecilmu datang kepadamu meminta perhatianmu?

Secara logika, segera mengusirnya atau memelototinya atau bertampang masam dan meneriakinya agar ia segera pergi dan tidak mengganggu pekerjaanmu bukan?
Tapi tidak dengan mendidik hati.

Ia ﷺ justru menghentikan sementara khutbahnya di atas mimbar dan menghampiri anak kecil yang sedang tertatih menuju ke arahnya.

> “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Lalu Hasan dan Husain radhiallahu ’anhuma datang ke masjid dengan memakai gamis berwarna merah, berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun (karena masih kecil). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar masjid dan menggendong kedua cucu tersebut, dan membawanya naik ke mimbar. Lalu beliau bersabda, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah (ujian), aku melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa bersabar”. Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya” (HR. Abu Daud no. 1109, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Maasyaa Allah. Maasyaa Allah. Betapa menyejukkan dan menggetarkan hati akhlak Rasulullah ﷺ.
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

Lalu, mengapa justru banyak pendidik beratas nama islam yang mendidik penuh tekanan, tegas yang melukai, serta membebani dengan targetnya yang tidak manusiawi ?

Allahul musta’an.

Mari Kembali ke ajaran terbaik dari Nabi, yaitu Mendidik Hati

Sudah saatnya kita kembali kepada metode Rasulullah ﷺ.
Mari kita mulai dengan satu tahapan yang hilang.
Berhenti sejenak dari tuntutan akademik, dan mulailah mendidik hati anak-anak kita dengan kasih sayang. Peluklah mereka, Senangkan hati mereka, dengarkanlah mereka, dan maafkanlah mereka.

Sesungguhnya, pendidikan yang paling mulia adalah pendidikan yang menyentuh jiwa, dan metode yang paling ampuh adalah keteladanan yang lahir dari cinta.

Karena hati adalah raja dan ia merupakan pusatnya akal untuk berpikir dan memahami.

> Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya. ”
(Majmu’ Al Fatawa, 11/208).

Maka, yuk teladani sebaik-baik teladan dan qudwah hasanah kita, Rasulullaah ﷺ dalam #mendidikhati.

Yassarallahu umuurona

Wallahu a’lam.

Ayun ummu Fa

𝐇𝐂𝐄 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

𝗛𝗼𝗺𝗲 𝗼𝗳 𝗖𝗵𝗮𝗿𝗮𝗰𝘁𝗲𝗿 𝗘𝗱𝘂𝗰𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻

SETIAP ANAK HEBAT
Bahagia Beriman, Berilmu, Beramal
┈•┈• 🍀🪷🪷🪷🍀•┈•┈

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *