CINTA TANPA SYARAT
Pemateri : Sri Gumelar Wiji Hasmoro, A.Md, A.K
Sesi Ke – 10 Temu HCE
Materi : Cinta Tanpa Syarat
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ
“Kami panjatkan segala puji kepada-Nya dan kami mohon pertolongan-Nya. Seraya memohon ampun dan perlindungan-Nya dari segala keburukan jiwaku dan kejelekan amaliahku. Barang siapa telah Allah berikan petunjuk jalan baginya, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk”
ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad hamba Allah dan utusan Allah.”
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Rabbi, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”
Do’a Mohon Ilmu Manfaat.
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمََا, وَاصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ, وَلاَ تَكِلْنَا إِِلَى اَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنِِ
” Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan jadikanlah bermanfaat bagi kami apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami, dan perbaikilah seluruh urusan kami, dan jangan pikulkan kepada kami walau sekejap matapun”
Mari kita panjatkan segala puji dan syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah berikan kita nikmat Iman, Islam dan kesehatan sehingga kita bisa belajar bersama dalam majelis ilmu ini.
Semoga dengan menuntut ilmu, Allah jadikan ia perantara kita dimudahkan masuk ke dalam Jannah Firdaus-Nya.
Aamiin Allahumma aamiin.
Mari kita curahkan sholawat serta salam kepada Nabi kita, teladan terbaik sepanjang masa Rasulullaah Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ yang biidznillaah telah berjuang pantang menyerah menghadapi tekanan fisik, psikis. Rela mengorbankan jiwa, raga dan harta agar nilai-nilai tauhid dan indahnya Islam yang sempurna bisa dirasakan oleh umat yang Beliau ﷺ cintai . 💖
Beliau ﷺ yang senantiasa memikirkan kita ummatnya bahkan ketika menjelang ajalnya. 💦
Beliau ﷺ yang mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang agung. 💝
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad. 🤲🏻
Begitu juga untuk keluarga Beliauﷺ, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan kita sebagai umatnya yang semoga senantiasa Istiqomah di atas sunnah-sunnah Beliau ﷺ hingga ditegakkan hari kiamat kelak. Aamiin allaahumma aamiin…
Apa kabar teman-teman shalihah pemelajar rahimakunnallah?
Mari kita memohon kepada Allah Ar-Rahiim agar Allah berkahi ilmu guru-guru kita, senantiasa dalam penjagaan-Nya begitu juga dengan kita sebagai penuntut ilmu diberi pertolongan dalam menyimak materi serta mengambil faedah, sehingga bisa menjadi ilmu bermanfaat yang bisa diamalkan.
Aamiin allaahumma aamiin 🤲🏻
Bagi teman-teman yang baru bergabung, Ahlan wa sahlan dalam sesi ke-10 TeMu HCE 2026. 💖
TeMu HCE ini merupakan kegiatan tahunan HCE (Home of Character Education) dalam syi’ar ilmu parenting Pendidikan Karakter Nabawiyah yang berlandaskan Qur’an dan Sunnah.
Bagi teman-teman yang qadarullah terlewat menyimak sesi sebelumnya, insyaa Allah akan dibagikan tautan rekaman dan materi sesi tebar ilmu yang sudah terlaksana.
Sebelumnya disclaimer ya teman-teman shalihah. Saya di sini bukan sebagai seorang pakar, ahli, ataupun ustadzah.
Saya hanya Ibu yang dulunya terombang-ambing dalam mencari metode parenting, tak tau tujuan hidup bahkan sempat terlintas ingin mengakhiri hidup💦
Atas Taufik dan kasih sayang dari Allah Al Hadi memberikan saya petunjuk di tahun 2024 bertemu dengan metode parenting yang bersumber langsung dari Al Qur’an dan Al Hadits.
Menemukan metode Pendidikan Karakter Nabawiyah (PKN) berbasis fitrah ini seperti menemukan oase di tengah gurun. Harta yang tak terbeli dengan uang, kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang selama ini dicari oleh hamba sekaligus orang tua yang senantiasa berusaha memberikan yang terbaik untuk amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Al-Hakim
Alhamdulillaah bini’matihi tatimushshaalihat shaalihat laa haula wa laa quwwata illaa billaah
Hari ini izinkan saya berbagi sedikit ilmu yang Allah beri sebagai bentuk kesyukuran dan kebahagiaan.
Agar teman-teman yang mengalami hal sama bisa perlahan menemukan jalan pulang mendidik ananda dengan penuh ketenangan💐
Silakan ketik jawabannya ya bunda..
Maasyaa Allaah, jawaban bunda semua benar.
Maha Besar Allah yang telah menciptakan emosi Cinta, sesuatu yang bahkan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Membuat bahagia siapapun yang membaca, mendengar, mengatakan, dan merasakannya…
Namun hari ini cinta itu berubah…
“Kalau kamu patuh, Ibu akan menyayangimu”
“Mama akan bangga kalau kamu dapat rangking satu”
“Ayah akan belikan HP baru, kalau kamu berhasil masuk ke sekolah favorit”
Lalu anak bertanya…
“Kenapa aku harus “membayar” untuk mendapatkan sayang ayah dan ibu?”
“Tak bisakah aku mendapatkan cinta mereka dengan mudah dan tanpa syarat ini itu?”
Benarkah ini rasa sayang yang ingin engkau beri pada ia yang engkau tunggu kehadirannya bunda?
Mari putar kembali memori kebersamaan kita dengan ananda.
Betapa bahagia, saat engkau mengetahui bahwa ada janin dalam kandunganmu…
Engkau rawat ia penuh kasih sayang, segalanya engkau berikan yang terbaik untuknya…
Rasa mual, mood yang naik turun, badan pegal-pegal, muntah berulang kali, sulitnya tidur nyenyak, beratnya beban yang senantiasa engkau bawa,
Bahkan nyawamu engkau pertaruhkan..
Harapanmu hanya satu…
Ia lahir sehat wal ‘afiat
Alhamdulillaah ia lahir tak kekurangan sesuatu apapun.
Semua berbahagia menyambut kehadirannya, termasuk kita yang menyandang gelar baru sebagai seorang “Bunda”
Letih jiwa raga tak lagi kita hiraukan,
Perjuangan berat berbalas kebahagiaan tak terperi saat memandangnya dan melihat ia tumbuh…
Hingga akhirnya ketika ia menunjukkan sedikit kebisaannya, kita mulai berharap…
Berharap ia menuruti semua kemauan dan skenario yang kita buat
Dari sinilah ia merasa
“Aku harus membayar cinta bunda dengan menuruti segala keinginannya”
Ingin ia mengungkapkan, tapi hanya mampu berteriak, menangis, mengamuk…
Dan saat itu pula, engkau berlakukan Cinta Bersyarat yang berasal dari hutang pengasuhan masa lalu yang masih terpendam.
Berharap dengan cinta yang ia bayar hutang pengasuhanmu lunas…
Lunas bersama derita jeritan hati ananda…
Ia memang terlihat menyenangkan dengan kepatuhannya.
“Asal Bunda senang”
Walau ia harus terluka, haus kasih sayang, tidak diapresiasi, kurang perhatian dan bahkan tidak diberi ruang untuk menumpahkan segala emosi yang ia rasa…
Ya.,.
Ia terlihat indah diluar tapi sangat rapuh didalam
Jika kita mau merenung, sejenak menginstrospeksi diri, memperhatikan jiwanya lebih dalam. Mungkin hal-hal ini yang akan ia rasakan.
“Ngga apa-apa kita ikutin aja maunya dia, daripada dijauhin”
Ia selalu merasa ngga enakan, ga berani menolak, tidak apa-apa mengorbankan diriku, asal mereka bahagia (bermental people pleaser)
“Ga usah masak di rumahku ya, nanti mama marah rumah berantakan”
Ia menjadi penakut, tidak inisiatif, tidak berani mencoba atau mengambil keputusan, karena semua serba dilarang dan diatur
“Ngga apa-apa kali nyontek, kan ga ada yang lihat. Daripada mama ngomel nilai ujianku jelek aku dapet hukuman atau aku disetrap Bu Guru, kan malu”
Anak mengambil jalan pintas demi hasil terbaik serta terlihat baik di mata dunia. Tak peduli ada Allah senantiasa yang senantiasa melihat
“Sebenarnya aku maunya sekolah masak aja, tapi ayah maunya aku jadi dokter karena ayah tau aku ini anak pinter. Mana cape les ini itu, aku kan pengen main juga abis pulang sekolah”
Anak selalu mengusahakan yang terbaik agar sesuai harapan, dan berharap tidak ada kegagalan dalam hidupnya, dengan dalih “Demi orangtua yang sudah membesarkanku” walau kebahagiaanya terenggut.
- Cinta bersyarat kepada anak kita seringkali terjadi karena:
Pola asuh konvensional yang secara turun temurun kita praktikan dari orang tua kita tanpa mau belajar cara mendidik yang benar sesuai firman Allah dan Sunnah Rasulullah. Contoh: Selalu mengungkit kesalahan anak dan sulit memaafkannya, tapi memaklumi kesalahan orang lain.
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
- Hutang pengasuhan yang belum selesai hingga minta dilunasi oleh anak-anak kita. Orang tua merasa selalu dan paling benar, menuntut untuk selalu dipatuhi.
Contohnya: Orang tua menghakimi tanpa validasi emosi anak dan anak tidak diberi kesempatan menjelaskan.
“Dulu ayah juga langsung nyalahin aku kalau aku berantem sama adik. Ya begitu juga aku hakimi anak sulungku saat ia berantem dengan adiknya”
Atau anak sulung harus selalu mengalah dengan adik. Padahal kakak juga berhak mempertahankan apa yang menjadi miliknya🥀
- Memberi berarti harus menerima balasan Padahal mendidik adalah salah satu bagian dari beribadah kepada Allah yang kita berharap pahala darinya.
“Aku sudah berkorban banyak untuk anakku, wajar dong aku minta anakku untuk mengikuti kemauanku”
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan pahala berdasarkan niatnya.”
•. Seringkali lupa bahwa anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Jika kita kembali menjadi anak-anak, apakah jiwa kita tidak merasa sakit diperlakukan seperti itu oleh orang tua?
Dahulu saat ia lahir, bukankah kita selalu bertekad “anakku harus lebih baik dari aku”.
Baik dari sisi apa jika diperlakukan seperti itu dan sebenarnya apa tujuan mendidik ananda?
Mari kita ingat kembali, tujuan Allah menciptakan kita
Allah jelaskan dalam surah Adz-Dzariyat:56 bahwa kita diciptakan untuk beribadah. dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
” الْعِبَادَةُ ” هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ : مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
“Ibadah adalah istilah yang mencakup segala yang Allah cintai dan ridai berupa perkataan dan perbuatan yang batin maupun lahir.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:149)
Mendidik anak merupakan bagian dari ibadah karena Allah ridho.
Jika kelak kita berusaha mendidik sesuai petunjuk Allah, semoga Allah berkenan menjadikan ananda pribadi yang shalih yang mentauhidkan Allah.
Allah juga menciptakan kita dalam rangka sebagai khalifah atau pemakmur bumi.
Setiap manusia fokus mengilmui hingga mahir dalam bakatnya dan bisa bermanfaat untuk sesama sehingga tidak terjadi kerusakan di muka bumi.
Dengan usaha kita mendidik berharap pula Allah jadikan ananda pribadi mushlih yang senantiasa bersemangat memperbaiki masyarakat dan lingkungan untuk kemaslahatan yang lebih besar.
Semoga setelah ini, tidak ada lagi ibu yang bingung dengan tujuan pendidikan.
Bukan sekedar anak kita bisa meraih profesi bergengsi dengan segudang prestasi, tapi ada tujuan besar pendidikan yaitu untuk kemaslahatan serta keselamatan dunia dan akhirat.
Dengan derasnya informasi saat ini, banyaknya metode parenting dari pakar A, pakar B, kita harus mengikuti yang mana?
Yang instagramable, yang banyak dipraktikkan circle pertemanan kita, atau para influencer di luar sana?
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah/5: 3]
Biasanya setiap kita beli barang, akan disertai manual book oleh pencipta atau produsen supaya barang bisa berfungsi baik, awet, bisa kita ambil manfaat yang banyak darinya.
Hal ini sama seperti Allah telah berikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai suri tauladan yang orang kafir pun mengakui bahwa Beliau orang no 1 paling berpengaruh di dunia, dan bukti nyata telah mencetak generasi terbaik sepanjang zaman yaitu para sahabat, para tabi’in (generasi yang bertemu para sahabat), tabi’ut tabi’in (generasi yang bertemu tabi’in)
Lalu kita masih bingung, malu, minder dengan agama Islam yang mengatur segala hal bahkan sampai urusan beristinja?
Adakah agama lain yang lebih sempurna bahkan dalam makan minumnya ditetapkan aturan untuk kemaslahatan penganutnya?
Sepertinya kita sudah kehabisan akal dan alasan. Satu-satunya jalan keselamatan pendidikan ini adalah kembali mempraktikan firman Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Maasyaa Allaah, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.
Alhamdulillaah kita sudah mengetahui tujuan dan panduan pendidikan kita.
Di sisi lain kita turut prihatin dengan dunia pendidikan saat ini…
Dengan banyaknya kasus pendidik bahkan oknum yang mengaku ustadz melakukan pelecehan kepada santrinya, bullying, bun*h diri, anak menyiksa bahkan memb*nih orang tuanya untuk mendapatkan yan ia mau.pasti kita semua merasakan kesedihan, lelah resah, takut akan masa depan anak-anak kita…
Muncul kembali pertanyaan
Apa yang salah dengan pendidikan hari ini? Mengapa semakin hari beritanya semakin mengiris hati?
Masih relevankah pola mendidik dengan metode diajarkan dan dibiasakan hingga bisa mencetak mahasiswa di PTN ternama yang malah berfantasi menggunakan AI dari foto mahasiswi lain?
Bermula dari hak anak-anak kecil yang direnggut.
- Hak bermain mereka dirampas dengan tuntutan pandai calistung di usia dini • Kesenangan mereka diambil agar mereka terlihat sama dan tertib,
- Semua dihafal tanpa tahu makna dan manfaatnya
- Orang tua yang beranggapan “lebih cepat lebih baik” dan ingin segera panen
- Anak dikekang dengan berbagai macam aturan, di masa sedang senang trial error
- ingin anak segera shalih dan taat syari’at di usia dini sampai diharuskan berjilbab sejak usia balita
Saatnya kita bercermin pada diri, pada parameter mudah keimanan kita…
Sudahkah kita segera berhenti dari aktivitas dunia saat adzan berkumandang dan bersegera memenuhi panggilan-Nya?
Atau kadang kita sengaja mengakhirkan shalat kita dengan alasan “ah tanggung, lagi asik sedikit lagi selesai”
Padahal ia adalah amal pertama yang akan dihisab
Bahkan ketika shalat, kita bagaikan robot. Pikiran melayang kemana-mana.
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ
Shalat yang seharusnya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar malah tak berbekas….
Lalu selama kita hidup, sekolah tinggi-tinggi, kita belajar apa?
Sampai Allah Sang Pencipta yang memberikan kasih sayangnya setiap detik dalam kehidupan kita, tidak ada istimewanya?
Kita hanya rajin, mendekat saat ujian menghampiri, saat kita punya banyak kemauan.
Subhanallaah, bahkan di usia kita yang sudah setua ini kita, ternyata pondasi keimanan kita masih rapuh.
Bagaimana anak kita akan beriman, mengenal Allah, mencintai Allah jika kita masih merasa cukup dengan pola pendidikan warisan orang tua kita?
Alhamdulillaah Allah beri taufikNya. Perlahan kita mulai menyadari, berbenah bahwa yang membuat
Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu rela menginfakkan seluruh hartanya,
Bilal radhiyallaahu ‘anhu rela disiksa diteriknya Padang pasir,
Summayah radhiyallaahu ‘anha menjadi Syahidah pertama,
Mush’ab bin Umair radhiyallaahu ‘anhu meninggalkan segala kemewahan hidupnya,
Biidznillah karena Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan akhlaknya yang mulia menanamkan pondasi iman yang menghujam hingga kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya begitu mendalam sehingga umatnya selamat dari ujian dunia mendapatkan kedudukan yang utama disisi Allah Rabbul ‘aalamiin.
Bagaimana agar anak kita imannya bisa kuat ?
Momen terbaik biasa kita sebut golden age menumbuhkan karakter iman yaitu ketika anak-anak masih kecil yakni di fase thufulah 0-7 tahun.
- Saat anak diberikan ruang untuk menuntaskan egosentrisnya, dengan cara
diberi ruang bereksplorasi, disayang, - diapresiasi,
- dimaafkan,
- dibersamai,
- difasilitasi segala keingintahuannnya
- diakui kemampuannya,
- tidak dibandingkan,
- memusatkan perhatian padanya,
- orang tua memberi teladan
maka akan muncul persepsi positif terhadap dirinya bahwa ia dicintai, Allah menciptakanku unik, hebat, berbeda, limited edition, pokoknya aku keren.
Dengan begitu tangki cintanya akan penuh.
Bahasa kita itu “kita ambil hatinya”
Nanti anak dengan mudah dan atas kesadaran diri akan membalas kasih sayang kepada kita tanpa kita minta.
Meng copy paste segala tingkah laku baik kita walau kita tidak memerintahnya.
Bagaimana cara “mengambil hati” anak?
Silakan diisi polling berikut ya bunda
Maasyaa Allah emak-emak warga Temu HCE ternyata kita sepemikiran ya. Kalau ga no 2 ya no 3. Minta dibeliin sesuatu ga perlu pake embel-embel. Alhamdulillah suami peka ya…
Begitupun cara kita mendidik anak kita. Jika ingin mendidik iman yang letaknya di hati (qalb) maka kita gunakan bahasa hati (cinta tanpa syarat)
Tidak bisa kita mengajarkan rukun iman hanya dengan menghafal (dengan proses berpikir menggunakan otak) rukun iman lalu berharap iman anak kita tumbuh.
Inilah salah satu hikmah penumbuhan karakter iman di usia thufulah. Saat ia belum pandai bernalar, dia lebih sering berkhayal, atau bertanya yang tidak masuk akal, kita bisa dengan mudahnya menceritakan hal-hal ghaib, seperti Allah maha Besar, dengan melihat ciptaan-Nya, Allah maha pencipta, melihat lalat bisa terbang, siapa yang menciptakan lalat? Apakah manusia bisa menciptakannya?, keindahan surga, kemenangan para sahabat di peperangan karena keimanannya
Khayalan pada anak thufulah itu seperti nyata sehingga dengan mudah kita memasukkan nilai-nilai bahwa Allah pencipta kita itu mengagumkan.
Serta kita hindari tentang hal-hal yang menimbulkan ketakutan pada diri anak di usia ini. Seperti bercerita tentang para sahabat disiksa atau terbunuh, neraka, Allah yang Maha Kejam siksaannya.
Ustadz Abdul Kholiq berkata, pada hadits yang tertera di slide jangan pula kita persepsikan mendidik anak prioritas utamanya dengan tangan terlebih dahulu, baru lisan, kemudian hati.
Tetapi kita gunakan 3 bahasa tersebut sesuai fasenya.
Semenjak tadi kita sudah berbicara panjang lebar tentang prioritas penumbuhan karakter iman dan cinta yang letaknya di hati.
Memang ada apa dengan cinta?
Mengapa harus ditumbuhkan rasa cinta terlebih dahulu?
perkataan Ibnu Taimiyah
“Cinta dan kemauan adalah pokok dari setiap perbuatan dan pergerakan aktivitas dunia” (Jaami’ur rasaa’il)
Dengan mudahnya kita dan anak kita melakukan kebaikan atas dasar cinta kepada Allah.
Allah perintahkan apapun, jika anak sudah mengenal Rabbnya, mencintai Allah dengan mentadabburi ciptaan-Nya, diberi teladan
oleh orang tua
“oh ternyata jika bunda sudah shalat, bunda jadi lebih tenang”
“Bunda ga marah kalau aku naik ke punggungnya waktu sujud”
“Ternyata kalau puasa bunda jarang marah”
“Bersedekah itu membahagiakan orang lain”
Akan sangat ringan bagi anak untuk melakukan ketaatan. Seiring berjalannya waktu, ia akan bernalar ternyata di dalam perintah Allah banyak hikmah kebaikan untuk hamba-Nya
Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Isma’il ‘alaihissalam
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Saat pondasi keimanan sudah tertancap kuat, hingga melahirkan rasa cinta yang yang memuncak
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan tenangnya, sami’na wa atho’na dengar dan taat dengan perintah Allah tanpa banyak bertanya.
Begitupula dengan anaknya Nabi Isma’il ‘alaihissalam dengan tenang, ridho dan mantap melaksanakan perintah Allah.
Sekilas tadi sudah disebutkan tentang cinta tanpa syarat.
Tanpa penjelasan panjang lebar pun Insyaa Allah para bunda sudah sangat memahami akan hal ini.
Kita ikhlas dan ridho dengan anak kita baik dari segi fisik maupun tabiatnya.
Saat kita sudah ikhlas lagi ridho, kita akan lebih bahagia saat membersamainya, mudah memaafkan, dan bisa dengan mudah melihat potensi yang ada pada dirinya.
Sedikit contoh dari banyaknya bentuk cinta tanpa syarat
Saat ananda tidak sesuai ekspektasi
Ananda sedang belajar mandiri dengan mengambil piring kaca di rak piring. Qodarullah piringa pecah, mungkin karena licin atau kurang kencang memegangnya. Pasti anak sedang kaget dan takut.
Bagaimana reaksi kita?
1. Tak perlu ada kemarahan,
2. Kita amankan ananda dari pecahan kaca,
3. Apresiasi usahanya “Wah adek hebat ambil piring sendiri untuk makan ya.
4. Validasi emosinya “kaget ya piringnya pecah. Adek disini dulu ya minum makan cemilan, bunda rapikan pecahan kacanya dulu”
Selesai dan tak perlu diungkit serta dinasehati.
Saat anak melakukan kesalahan
Kakak dan adik masih di fase thufulah, keduanya bertengkar. Kaka salah karena merebut mainan adik.
Apa yang perlu kita lakukan
1. Pisahkan keduanya jika sudah sampai taraf membahayakan
2. Tetap tenang. Kita peluk adik karena ia yang menjadi korban. Validasi emosinya, basuh lukanya dengan dialihkan dengan hal yang ia sukai.
3. Setelah adik tenang, kita peluk kakak. Validasi emosinya dengan bertanya? “Kakak ingin mainan seperti adik?”
4. Pusatkan perhatian padanya dengan raut muka biasa saja tanpa ada rasa kesal atau kemarahan padanya
5. Setelah tau penyebabnya, dicari solusi tanpa penghakiman.
6. Di momen lain saat sedang kakak senang kita bisa berdialog, cara yang benar untuk meminjam mainan.
Ananda akan belajar bahwa cinta bunda tidak berubah jadi benci saat ia berbuat kesalahan.
Kita bisa berikan cinta tanpa syarat dengan bahasa cinta yang sesuai dengan karakter anak.
Biasanya anak yang cenderung berperasaan (ego rendah) hatinya sensitif, disentak sedikit nangis, cenderung mengalah, minim aktivitas fisik, lebih suka beraktivitas yang tidak menguras tenaga, penurut, terkadang tidak meminta jika tidak ditawarkan, maka bahasa hatinya dengan perlindungan yang berbentuk
* Pujian
> Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي
“Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk kedalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai dalam Al Kubro 5: 307).
* Hadiah
> Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu,
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
(HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594)
Untuk ananda yang senang diajak berdialog, berpikir, bisa dinegosiasi saat ada masalah, aktivitas fisiknya sedang, yang mudah untuk dimintai tolong (ego sedang) maka bahasa hatinya dengan pembersamaan yang berbentuk
* Pendampingan
> Berkata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu
بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ
“Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi ﷺ), maka Rasulullah ﷺ berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”
(HR.Bukhari & Muslim)
* Sentuhan
> Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab Shahiihnya, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Kami pernah masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Abu Saif al-Qain, yang ia merupakan sepersusuan dengan Ibrahim Alaihissallam, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Ibrahim, kemudian mencium dan memeluknya.”
Adapun anak dengan karakter (ego tinggi) kemauannya yang keras, tidak mau mengalah, aku harus nomor 1, tenaganya besar, banyak bergerak, sulit dinegosiasi, berlagak seperti raja, sulit diatur, semakin dilarang semakin melonjak, terkadang memiliki empati tinggi, biasanya lebih menguras kesabaran kita, maka berikan bahasa hati berupa pelayanan
* Pemaafan
> Allah berfirman:
قال الله تعالى: وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْمِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka”.
(QS. Al-Imran : 159)
* Pengorbanan
> Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat”.
(HR. Bukhari, no. 6039)
Ciri-ciri karakter diatas juga berdasarkan pengalaman pribadi mengamati 3 putra saya yang memiliki ego berbeda.
Mungkin diantara bunda ada karakter ananda yang mirip dengan pernyataan tersebut
Pastinya ada bunda yang Masih bingung dengan ego tinggi, sedang, dan rendah ya bun.
Dahulu sebelum mengenal Pendidikan Karakter Nabawiyah, saya pun bingung.
Bagaimana cara mengenal karakter anak, bahkan mengenali diri sendiri saja rasanya masih abu-abu.
Nah mari kita bahas tentang kondisi jiwa anak ya bun.
Supaya apa? Supaya tenang mendampingi ananda dengan kondisi jiwanya.
Karena pada praktiknya saya pernah menyuruh anak saya dengan ego tinggi untuk belajar duduk diam pegang pensil, menulis, mewarnai.
Alhasil? Tidak lama kemudian anaknya kabur. Karena memang dorongan dari jiwanya untuk banyak bergerak. Setelah itu saya sadar, bahwa ia belajar dengan bergerak.
Semisal lomba lari, goes sepeda yang jauh, main perang bantal.
Kita hanya diberi tahu oleh Allah sedikit ilmu-Nya tentang ruh
> وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. Al-Isra:85)
Ibnu Taimiyah rahimahullaah mengatakan
> “Ruh yang ditiupkan ke dalam (jasad) adalah jiwa, yang akan terpisah lagi dengan (jasad) karena kematian.” (Majmuu’ul Fataawaa 9/289
Dengan yang sedikit ilmu yang Allah beri mari kita pelajari.
Setiap diri memiliki 3 sifat jiwa ini, hanya saja dominasinya berbeda.
Maasyaa Allah nya seperti dalam firman Allah
> لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin : 4)
Tidak ada produk gagal dalam ciptaan Allah. Semuanya sempurna.
Sekalipun yang kita sering dapati ada anak yang didiagnosa anak berkebutuhan khusus (ABK),
maka dalam perspektif Pendidikan Karakter Nabawiyah yang ada hanyalah Anak BERKEHEBATAN Khusus
Jika nilai kondisi 3 jiwanya ditotal hasilnya akan tetap sama seperti anak normal.
dibalik kekurangannya, Allah berikan 1 kelebihan yang menonjol dan kita fokus pada potensinya, maka kekurangannya akan tertutupi.
Ibarat gelap akan sirna dengan adanya cahaya.
Setelah jiwa mari beralih ke otak.
Yang menurut orang barat bahwa disanalah pusat berpikir.
Berbeda halnya dengan orang beriman yang menjadikan hati mereka tempat berpikir
> Al-Hajj ayat 46:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (berpikir) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
Dalam psikologi barat juga diyakini sistem berpikir ada 3 meliputi : pikiran sadar, bawah sadar, dan tidak sadar.
Dalam Islam sistem berpikir sangat berbeda ada : pikiran ATAS sadar, sadar, dan bawah sadar.
Berpikir ATAS sadar inilah yang tidak dikenal oleh teori barat.
Dalam praktiknya semua yang dipikir dengan atas sadar hanya bisa dijangkau oleh hati orang beriman.
Sedangkan orang barat hanya meneliti sampai pada sesuatu yang bisa diteliti yaitu otak
Berpikir sadar contohnya menghitung uang ketika tanggal tua… Sadar sesadar-sadarnya, jadi mesti kencangkan ikat pinggang
Mengerem ketika tiba-tiba ada kucing melintas, maka ini menggunakan pikiran bawah sadar. Bergerak otomatis yang biasa kita kenal insting
Bagaimana berpikir dengan atas sadar?
Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan kepada manusia tentang peristiwa Isra. Mereka bertanya, “Ke mana?” Beliau menjawab, “Ke Baitul Maqdis.” Mereka berkata, “Kemudian pagi ini, kamu sudah berada di tengah-tengah kami lagi?” Beliau menjawab, “Ya.”
Ibnu Abbas berkata, “Ada yang bertepuk tangan, ada juga yang meletakkan tangannya di kepala karena merasa heran dengan kebohongan yang diklaimnya.” Mereka bertanya lagi, “Apakah kamu mampu menggambarkan kepada kami masjid Al-Aqsha itu?” Karena di antara mereka ada yang pernah mengunjungi wilayah tersebut dan melihat masjidnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku pun menggambarkannya, hingga aku sedikit bimbang tentang gambarannya. Tiba-tiba aku diperlihatkan masjid itu dengan jelas seakan-akan diletakkan di depan rumah Uqail, maka aku pun menyebutkan semua ciri-cirinya sambil melihat bangunan tersebut.”
Ibnu Abbas berkata, “Adapun ciri-ciri tersebut aku tidak hafal.” Maka mereka pun berkata, “Adapun ciri-cirinya demi Allah semua benar.” (HR. Ahmad dalam musnadnya, tahqiq Ahmad Syakir, 4:293, no. 2820, sanad hadits ini sahih. Disebutkan juga oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 1:64-65).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada pagi harinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kaumnya apa yang Allah Ta’ala perlihatkan kepadanya berupa ayat-ayat-Nya yang besar. Maka mereka pun semakin mendustakannya, menyakiti, dan melecehkannya. Beliau juga menceritakan tentang kafilah mereka yang tengah di perjalanan dan kapan tibanya.
Beliau juga menceritakan tentang unta yang terlepas. Dan realitanya persis seperti apa yang dikatakannya. Namun, semua itu tidak menambahkan, kecuali semakin menjauhnya mereka dari kebenaran dan orang-orang zalim tidak menginginkan, kecuali kekufuran.” (Zaad Al-Ma’ad, 3:39)
Inilah sikap orang-orang kafir terhadap peristiwa Isra dan Mikraj, sementara sebagian orang yang telah menyatakan Islam, tetapi keimanan mereka masih lemah menjadi murtad. Lihat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3:62), status riwayat ini, sanadnya sahih dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi.
Iman mereka goyah karena persoalan yang sepele. Sementara itu, sekelompok lain imannya semakin mantap seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika menerima informasi tersebut, beliau langsung membenarkannya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperjalankan ke Masjidil Aqsha, maka orang-orang pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya menjadi murtad, mereka pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,
هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ يَزْعَمُ أَسْرَى بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ ؟
“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,
أَوْ قَالَ ذَلِكَ ؟
“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.
Abu Bakar berkata,
لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ
“Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”
Mereka berkata,
أَوْ تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ المَقْدِسِ وَ جَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ؟
“Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”
Abu Bakar menjawab,
نَعَمْ إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ
“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”
Aisyah mengatakan,
فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ
“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65. Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Berbeda halnya dengan kaum Quraisy yang mengejek Nabi, yang mengira itu hal mustahil bahkan khayalan. Karena mereka berpikir dengan pikiran sadar
Berbeda dengan sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu membenarkan perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tentang kejadian Isra Mi’raj yang beliau shalallahu ‘alaihi wassalam alami bukan dengan logika tapi dengan keimanan yang kokoh di dalam hati yang merupakan pikiran atas sadar.
Jika Nafsul Muthmainnah yang mendominasi maka anak akan cenderung berperasaan
Anak yang cenderung sering berpikir maka nafsul lawwamah yang lebih menonjol
Ketika anak suka bergerak maka nafsul ammarah yang dominan pada dirinya
Alhamdulillaah kita sampai di materi terakhir kulwap hari ini.
Kita sudah mengenal
* cinta bersyarat dan tanpa syarat
* tujuan dan prioritas pendidikan, serta metode mendidik
* masa emas penumbuhan karakter
* mengetahui kondisi jiwa
Hal terakhir yang tak kalah penting agar kita bisa mendidik anak selaras fitrah maka kita perlu melakukan RECOVERY
Recovery artinya perbaikan.
Perbaikan karakter/akhlak menyimpang yang ada pada diri dan anak kita agar kembali selaras dengan fitrah.
Karena penyimpangan karakter merupakan suatu kemungkaran, maka kita wajib untuk memperbaikinya.
Prioritas pertama yang perlu direcovery adalah orang tua.
Karena orang tua adalah pendidik yang akan menuntun ananda menjadi pribadi shalih lagi mushlih
Ibarat teko yang ingin mengisi air ke cangkir, maka teko harus diisi air terlebih dahulu, baru bisa mengisi.
Bagaimana cara merecovery diri kita?
Merecovery diri memang membutuhkan niat yang ikhlas, usaha yang sungguh-sungguh, dan tentunya kesabaran.
Kita tempuh melalui cara-cara yang sesuai syari’at dengan melakukan:
* Meluruskan niat mendidik. Mendidik karena Allah perintahkan yang menjadi bagian dari ibadah dan Allah ganjar pahala jika niat kita ikhlas
* Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir. Beristighfar, mohon pertolongan untuk keistiqomahan diri dan perjalanan mendidik ananda, serta menerima dengan ikhlas dan ridho kondisi ananda. Mengisi tangki cinta diri dengan senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah beri.
* Bersemangat menuntut ilmu agama terutama tentang tauhid, mendidik anak sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah agar Allah catat sebagai amalan yang diterima.
Kemudian tahap selanjutnya kita bisa merecovery ananda
Merecovery ananda usia thufulah yang sudah terlanjur terluka dengan cara DISENANGKAN dengan memperhatikan batasan tersebut.
Saat fase DISENANGKAN, seakan-akan kita biarkan bebas lepas, padahal tidak kita sedang memberikan hak mereka untuk menuntaskan egosentrisnya.
Dan akan kita alami nanti fase euforia atau melunjak.
Saat kondisi seperti ini rumusnya 3S sabar, sabar, dan sabar.
Kapan fase euforia melandai?
Ia akan melandai seiring keikhlasan dan keridhoan kita menuntaskan egosentrisnya.
Semangat ya bunda💐
Bagaimana jika anak-anak sudah besar dan masih menyimpan luka?
Metodenya sama seperti anak thufulah. DISENANGKAN.
Dengan tambahan perlakuan, seperti permintaan maaf orang tua atas pola pengasuhan yang dulu keliru dan ini akan sangat berefek pada kondisi jiwa anak.
Ia akan mulai merasa diterima, melembut, setelah selama ini mungkin dirasa sulit diatur, membangkang.
Bisa diajak berdialog tentang dirinya, bukan melulu soal belajar, prestasi akademik. Hal ini untuk membangun kepercayaan diri bahwa ada orang tuaku yang masih senantiasa percaya dan menyayangiku
Setelah itu bisa bertanya kamu sekarang maunya apa? Gali potensinya. Dulu ruang berekspresinya dibatasi, dikekang, semoga perlahan ananda bisa membuka diri, bahwa aku tidak selalu menuruti ekspektasi dan impian orang tua
Setelah itu mencari solusi bersama demi memaksimalkan potensinya.
Kesabaran Menuntaskan egosentris di waktu kecil akan lebih ringan, jika dibandingkan merecovery anak yang sudah besar.
Ibarat karat tebal yang ada di besi, butuh kesabaran, tenaga, waktu, usaha yang lebih ekstra.
Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki ..
Dan Alhamdulillah Ustadz Abdul Kholiq hafizhahullah telah merumuskan 5 kondisi anak. Solusi dari masalahnya pasti kembali kesitu.
Kasus 1:
saat iman sudah tumbuh, ilmu sudah ada, tapi enggan beramal.
Maka kita gunakan bahasa tangan bahasa bertekanan
Seperti ketika Ka’bah bin Malik yang tidak pergi ke perang Tabuk tanpa udzur syar’i.
Akhirnya didiamkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat.
Atau ketika anak kita sengaja meninggalkan sholat tanpa udzur syar’i ketika sudah baligh padahal sebelumnya ia rajin sholat dengan kesadaran dan tahu hukumnya meninggalkan sholat maka kita boleh memukulnya. Yang kita tahu dengan pukulan itu memberikan efek jera.
Kasus 2 : iman sudah tumbuh tapi belum berilmu sehingga amalnya salah atau keliru
Gunakan bahasa lisan (bahasa bersyarat)
Saat Mu’awiyah bin Al-Hakam yang baru saja berhijrah sedang shalat berjamaah di masjid, lalu mendengar orang bersin.
Muam’awiyah mendoakan dengan suara yang dikeraskan sehingga mengganggu jam’ah lain.
Sampai-sampai ada jama’ah yang melihat kepada beliau, beliau semakin marah “ngapain kamu lihat”.
Setelah sholat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam baru menasihatinya dengan lemah lembut.
Kasus ke 3 : disaat iman, ilmu dan amal belum tumbuh maka gunakan bahasa hati (tanpa syarat)
Hal ini terjadi ketika perang Hunain, setelah Fatuh Mekah. Disaat orang-orang yang baru saja masuk Islam malah melarikan diri dari peperangan.
Lalu Allah menangkan peperangan itu dan mendapatkan banyak Ghanimah.
Saat pembagian Ghanimah banyak sahabat Anshar yang tidak kebagian. Rasulullaah memberikan Ghanimah yang banyak tanpa syarat kepada mereka yang melarikan diri (imannya masih lemah)
Bahkan setelah diberi harta 100 unta yang masih meminta kembali untuk anaknya ditambahlah 100ekor unta. Karena sedang euforia akhirnya meminta lagi untuk anaknya yang lain hingga akhirnya mendapatkan 300 ekor unta.
Sahabat Anshar yang telah berjuang protes kepada Rasulullah.
Lalu beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab “apakah kalian tidak Ridha dengan hidayah yang telah Allah berikan, yang sebelumnya kalian tersesat?”
Kasus 4 :
Iman belum tumbuh, sudah berilmu, tidak mau beramal.
Gunakan bahasa hati (DISENANGKAN)
Seperti anak SMA sudah tau kewajiban sholat, malah dinasehati. Yang ada nasihat itu akan mental.
“Gara-gara sholat hidupku jadi susah”
Ia semakin merasa ibadah seperti beban, akan muncul persepsi negatif terhadap Allah dan agamanya.
Kasus 5:
Iman belum tumbuh, sudah berilmu dan bisa beramal.
Seperti ibadah karena terancam dengan hukuman.
Maka kita gunakan bahasa hati
Alhamdulillaah sekian materi yang bisa ana sampaikan, jika ada yang benar, itu semata-mata Taufik dari Allah.
Jika ada yang salah itu karena kekhilafan ana, mohon di wapri untuk diperbaiki ya….
SETIAP ANAK HEBAT
Bahagia Beriman, Berilmu, Beramal
┈•┈• •┈•┈
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻


Leave A Comment