TANGKI CINTA
Ruang Kendali Gejolak Hati
Penulis : Ustadz Abdul Kholiq
Apa Kabar Hati ?
┏━━━━••••┈✿•┈•✿•┈✿•••━━━━┓
💟 Home of Character Education 🌸
┗━━━••••┈✿•┈•✿•┈✿•••━━━━━┛
🏚 Rumahku Sekolah Terbaikku🌵
الأم مدرسة الأولى
Al-Ummu Madrasatul Ula
TANGKI CINTA - Ruang kendali gejolak hati
Dalam hati setiap manusia terdapat sebuah ruang, dimana ruang tersebut digunakan untuk menyimpan sebuah perasaan, yaitu perasaan dicintai.
Ruang itu dinamakan “Tangki Cinta”.
Jika tangki cinta kosong, kering tak terisi, maka hati akan berbolak-balik tidak menentu, tak terkendali, sehingga muncullah perasaan gundah, gelisah, merasa tidak diperhatikan, merasa tidak dihargai, merasa tidak dicintai, dan kadang menjadi berpolah tingkah dengan perilaku yang sulit dimengerti oleh orang disekitarnya.
Sebaliknya, jika tangki cinta terisi penuh, apalagi sampai membuncah dan meluber, maka dunia akan tampak lebih indah, penuh gairah hidup, merasa dicintai dan disayangi, merasa dihargai, merasa diperhatikan, dan lebih optimis dalam menghadapi kehidupan walaupun penuh dengan kerikil dan duri sekalipun.
Demikian juga dengan anak,
Ulah dan perilaku kenakalan anak sebenarnya didorong oleh gejolak hati karena keringnya tangki cinta yang tidak segera diisi oleh pendidik atau orangtuanya.
Padahal sebenarnya tidak ada pendidik atau orangtua yang tidak menyayangi anaknya, namun kenyataannya banyak anak yang merasa tidak disayang oleh orangtuanya.
Mengapa demikian?
Karena bahasa yang digunakan orangtua dalam mengungkapkan rasa sayangnya tidak tepat masuk kedalam tangki cinta anaknya, sehingga walaupun betapa besar rasa sayang orangtuanya, akan diterjemahkan oleh anak bahwa orangtuanya tidak menyayanginya.
Maka solusinya,
Gunakan bahasa cinta yang tepat agar rasa sayang orangtua kepada anak dapat mengisi penuh kekosongan tangki cintanya, sehingga anak akan lebih mudah diatur, bersemangat untuk belajar, ceria, dan tumbuh kesadarannya untuk melakukan apa yang diajarkan kepadanya.
Ada lima bahasa cinta yang dapat dengan mudah mengisi tangki cinta antara lain:
1. Kata-kata penyemangat
2. Kebersamaan
3. Pelayanan
4. Hadiah
5. Sentuhan fisik
Itulah bahasa pengendali hati anak, dan masing-masing anak memiliki bahasa cinta dominan yang berbeda-beda , sehingga bisa jadi satu bahasa dapat tepat digunakan untuk satu anak, tetapi belum tentu tepat untuk anak lainnya.
Lalu bagaimana jika yang kering tangki cintanya itu pendidik atau orangtuanya?
Baik keringnya karena pasangan hidupnya yang tak mengisinya, atau karena rekan kerja yang tidak memahaminya, atau karena justru menuntut anak untuk mengisinya.
Apakah mungkin seorang pendidik atau orangtua dapat mengisi tangki cinta orang lain sementara tangki cintanya sendiri kering?
Apapun penyebabnya, pendidik atau orangtua bijak seharusnya tidak menuntut orang lain untuk mengisinya, namun seharusnya mengisinya sendiri dengan isi yang paling utama, yaitu “merasa dicintai Allah ta’ala”.
Jika tangki cinta telah terisi dengan rasa dicintai Allah, semangat dan gairah hidup mana lagi yang bisa melebihinya?
Selamat mempraktekkan !
#pendidikankarakternabawiyah
#bahasacinta
Ustadz Abdul Kholiq
SKIS Imam Syafi’i Semarang.
🚹 SETIAP ANAK HEBAT 🚺
Bahagia Beriman, Berilmu, Beramal
✿•┈•┈ 🍀🪷🪷🪷🍀•┈•┈

Leave A Comment