MEMUTUS RANTAI “LUKA PENGASUHAN”

Mendidik Hati

┏━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┓
Mendidik Hati
┗━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┛
𝐇𝐨𝐦𝐞 𝐨𝐟 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐚𝐜𝐭𝐞𝐫 𝐄𝐝𝐮𝐜𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧
الأم مدرسة الأولى
𝐀𝐥-𝐔𝐦𝐦𝐮 𝐌𝐚𝐝𝐫𝐚𝐬𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐔𝐥𝐚

MEMUTUS RANTAI "LUKA PENGASUHAN"

MEMUTUS RANTAI “LUKA PENGASUHAN”

Agar Luka Tidak Lagi Diwariskan

Pernahkah kita menyadari bahwa cara kita mengasuh anak hari ini merupakan warisan dari cara kita dahulu diasuh?

Kita mungkin pernah berulang kali dibentak, dipaksa, diabaikan, diperlakukan kasar, diancam, dibandingkan, ditinggalkan, dipermalukan, tidak didengar,
Atau kita tumbuh dengan perasaan bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan menjadi seperti yang diharapkan orang lain.

Lalu hari ini, tanpa benar-benar kita sadari, sebagian pola itu muncul kembali ketika kita menjadi orang tua.

Bukan karena tidak mencintai anak kita, namun pola yang tidak disadari sering kali diwariskan.

Inilah mengapa kita perlu berani berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri.

Kita perlu melihat luka, bukan untuk mencari siapa yang salah tetapi untuk menemukan bagian mana yang perlu dirawat. Sebab kita tidak mungkin mengobati sesuatu yang tidak kita sadari ada.

Salah satu cara mengobati luka kita yaitu dengan belajar memahami dan memaafkan bahwa orang tua kita pun manusia biasa yang memiliki keterbatasan ilmu, pengalaman, dan luka mereka sendiri.

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.”(HR. At- Tirmiżi)

Memahami bukan berarti membenarkan.

Tetapi memahami dapat membantu kita memilih untuk tidak meneruskan keburukan itu.

Sebab ada sesuatu yang berada dalam kendali kita hari ini yaitu,
bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita betapa besar pengaruh orang tua terhadap pertumbuhan anak.

Anak-anak kita terlahir dengan bekal fitrah.
Anak bukanlah kertas kosong yang bebas kita bentuk sesuka hati.

Maka tugas kita bukan sekadar membuat anak menjadi seperti yang kita inginkan.

Kita perlu belajar mengenali, merawat dan menumbuhkan fitrahnya dengan cara yang Allah ridhai.

Karena itu, pendidikan anak bukan tanggung jawab yang dapat sepenuhnya kita serahkan kepada guru, lembaga pendidikan atau pihak manapun.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sekolah, guru, pondok, dan berbagai lembaga pendidikan adalah partner dalam mendidik.

Tetapi partner tak akan bisa menjadi pengganti kita kelak di yaumul hisab atas amanah yang Allah berikan kepada kita.

Ketika menghadapi tantangan atas perilaku anak kita, jangan menyerah dan berputus asa dari rahmat Allah.

Bisa jadi itu justru kesempatan bagi kita untuk lebih banyak belajar, lebih banyak berdoa, lebih banyak bermuhasabah, lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah dan lebih sungguh-sungguh memahami siapa anak kita.

Jika kita sadar kita salah, inilah saatnya untuk bertaubat.

Jika kita sadar pernah melukai, inilah saatnya untuk meminta maaf.

Jika hubungan mulai renggang, inilah saatnya untuk memperbaiki.

Jika selama ini kita terlalu keras, inilah saatnya kita belajar untuk berlemah lembut.

Jika selama ini kita kurang hadir, inilah saatnya kita mulai hadir.

Jadikan kesadaran itu sebagai awal perubahan untuk meraih hati yang tenang.

Kita memang tidak dapat mengendalikan hasil akhirnya.
Hidayah hanya milik Allah.

Tetapi kita bertanggung jawab atas amanah dan ikhtiar kita dalam mendidiknya.

Allah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan.” (QS. Hud: 114)

Kita tidak dapat mengubah apa yang telah berlalu.

Tetapi kita masih dapat memilih apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.

Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk kasih sayang terbesar kepada anak:

Kita mungkin tidak akan pernah bisa menjadi orang tua yang tidak pernah salah, tetapi kita bisa menjadi orang tua yang mau menyadari ketika salah dan bersedia memperbaikinya.

Dan dalam proses itu, kita perlu belajar mendidik dengan rahmah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.”(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Menyayangi bukan berarti pembiaran. Anak tetap membutuhkan pendampingan sesuai fase perkembangannya.

Tetapi tegas tidak harus menyakiti, membimbing tidak harus menekan, dan mendidik tidak harus menzalimi.

Kita tidak perlu memutus hubungan dengan masa lalu.
Tetapi kita boleh memutus pola yang tidak ingin kita wariskan.

Kita tidak harus membenci orang tua untuk memilih cara pengasuhan yang berbeda.

Dan kita pun manusia yang sedang belajar.

Yang baik dari mereka, kita teruskan.

Yang kurang baik, kita perbaiki.

Yang melukai, kita cukupkan sampai di kita.

Sebab kita tidak bisa memilih dari siapa kita dilahirkan.

Kita tidak bisa memilih bagaimana dahulu kita dibesarkan.

Namun…

Kita bisa memilih untuk tidak meneruskan luka.

Kita bisa memilih untuk tidak menjadikan anak sebagai tempat melampiaskan luka yang belum selesai.

Kita bisa memilih untuk menjadi tempat yang lebih aman bagi mereka untuk bertumbuh.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak kita akan membawa sesuatu yang berbeda kepada generasi setelah mereka:

bukan warisan tekanan,
bukan warisan ketakutan,
bukan warisan luka,

tetapi warisan ilmu, keteladanan, dan kasih sayang.

🌿 Hentikan luka di kita.
🌸 Teruskan kebaikan kepada generasi setelah kita.

Penulis : Rahmah Ummu Haidar
HCE Indonesia

Home of Character Education
🚹 SETIAP ANAK HEBAT 🚺
𝘔𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘉𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘚𝘢𝘫𝘢 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘫𝘢
❖ 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘭𝘮𝘶 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘭 ❖

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *