La Tansa Isi Tangki Cinta
┏━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┓
La Tansa Isi Tangki Cinta
┗━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┛
𝐇𝐨𝐦𝐞 𝐨𝐟 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐚𝐜𝐭𝐞𝐫 𝐄𝐝𝐮𝐜𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧
الأم مدرسة الأولى
𝐀𝐥-𝐔𝐦𝐦𝐮 𝐌𝐚𝐝𝐫𝐚𝐬𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐔𝐥𝐚
NIKMATI LELAHNYA, SYUKURI RAMAINYA
NIKMATI LELAHNYA, SYUKURI RAMAINYA
Setiap ibu pasti pernah merasakan lelah, dan mungkin rasa itu terlalu sering menghampiri.
Ada hari-hari ketika rasanya itu lagi, itu lagi yang dihadapi. Aktivitas yang hampir sama setiap hari, seperti berjalan di lingkaran yang sama tanpa henti.
Belum selesai membereskan satu perkara, muncul perkara lainnya yang menyapa.
Mainan berserakan memenuhi segala sisi lantai. Satu proyek belum selesai, sudah membawa lagi harta karun: kardus bekas, pipa paralon, pecahan kaca, kerikil, daun kering, dan lain-lain, hingga berjajar di sudut ruangan.
Piring menumpuk di wastafel, meminta untuk dibersihkan. Baju kotor di mesin cuci menunggu untuk dibilas.
Sementara itu, ada yang menangis meminta ditemani. Belum lagi bayi yang sudah bergerak ke sana kemari dan sedang asyik bereksplorasi.
Rumah tak pernah benar-benar selesai dirapikan, membuat tubuh dan pikiran seorang ibu standby 24 jam tanpa jeda.
Tubuhnya sebetulnya lelah, tetapi tetap berusaha berjalan.
Matanya sudah mengantuk, tetapi tetap berusaha mengawasi.
Hatinya ingin tenang, tetapi keadaan sering kali meminta lebih dari yang ia punya.
Lalu, malam pun datang tanpa terasa.
Anak-anak mulai mengantuk. Satu per satu mencari pelukan hangat untuk mengisi tangki cintanya sebelum tidur.
Tangan kanan membacakan buku cerita—tak cukup satu buku. Tangan kiri sambil memeluk yang lain.
Sementara posisi badan setengah rebahan sambil menyusui. Di sisa tenaga yang ada, berusaha tetap tenang menemani anak-anak hingga waktunya terpejam, meskipun tak jarang terpancing juga amarah ini karena tingkah mereka.
Tiba-tiba terlintas pikiran:
“Ya Allah, aku ingin menghilang sejenak…”
“Ya Allah, aku rindu diriku yang dulu.”
Paham sekali bagaimana rasa lelahnya hari-hari.
Paham bagaimana rasa jenuh melanda.
Bunda, Maa Qadarallahu khayran. Insya Allah.
Apa yang telah Allah takdirkan itu baik.
Tak mengapa…
Tidak seperti dulu, ketika dengan tenangnya kita mencatat kajian di buku.
Tak mengapa…
Tidak seperti dulu, ketika kita rajin belajar secara daring tanpa rengekan anak yang meminta perhatian.
Tak mengapa…
Tidak seperti dulu, ketika kita bisa dengan bebas pergi berbelanja tanpa tangisan seorang penggemar kecil yang ingin ikut.
Tak mengapa…
Tidak seperti dulu, ketika kita bisa duduk khusyuk membaca ayat Al-Qur’an.
Tidak apa, Bunda…
Jika saat ini kita sedang tertatih dan berjalan perlahan. Berjalan bukan berarti sedang berhenti bertumbuh.
Semua ada masanya.
Kini, prioritas kita sudah tidak sama seperti waktu sebelum Allah memberikan amanah hadirnya buah hati.
Ramainya rumah saat ini hanyalah sementara.
Lelahnya mengurus mereka tidaklah selamanya.
Lebih baik berlelah-lelah ketika mereka masih kecil daripada lelah ketika mereka sudah dewasa, bukan?
Nikmati lelah ini sebagai peran yang istimewa.
Sabarlah, paling tidak sampai anak berusia 7 tahun, ketika mereka sudah lebih banyak tertarik dengan teman-temannya dan lebih banyak berinteraksi di dunia luar. Riuhnya rumah akan mereda.
Nikmati lelahnya, Bunda. Di balik rasa lelah yang melanda, ada kepingan pahala bagi yang ikhlas menjalaninya.
Memang, perjalanan ini tidak selalu mudah. Akan selalu ada dinamika kehidupan yang menyapa.
Namun, percayalah, ketika kesabaran kita bertambah, Allah menjadikan surga sebagai hadiah.
Rumah yang ramai dengan tawa anak-anak, ramai dengan keceriaan mereka, adalah sebuah pertanda Allah datangkan anugerah.
Ada suara yang sedang belajar menyampaikan perasaan.
Ada suara yang sedang belajar mengalah, belajar menyelesaikan perselisihan.
Bersyukurlah dengan rumah yang ramai oleh celoteh anak. Itu pertanda mereka sedang tumbuh. Tumbuh imannya, tumbuh pula kepercayaan dirinya.
Wahai Bunda, pembentuk peradaban pertama…
Nikmati lelahnya, syukuri ramainya rumah hari ini.
Dengan doa yang terus dipanjatkan.
Dengan cinta yang terus kita usahakan.
Pada akhirnya, kita sedang tidak mengejar anak agar cepat besar.
Namun, kita sedang mendampingi dan membersamai mereka bertumbuh dengan bekal yang sudah Allah tanamkan sejak mereka lahir.
Sabarlah… Ini tidak akan lama.
Jika lelah menyapa, berhentilah sejenak.
Menangislah…
Menangis tidak akan membuatmu lemah. Namun, sebaliknya, dengan menangis kita sedang berharap pertolongan Allah.
Terimalah amanah dari Allah dengan hati yang lapang dan kerjakan sesuai dengan kemampuanmu saat ini.
Isi tangki cintamu sendiri dengan banyak mengharap cinta-Nya Allah.
Sukailah lelahmu, karena di balik rasa lelah ada rahmat Allah yang tak terlihat mata, tetapi sangat dekat dirasa.
Ya Rabbana, tolonglah kami selalu dalam menjalani hari. 💦
Ekti Ummu Uwais
🚹 *SETIAP ANAK HEBAT* 🚺
𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘚𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘛𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘬𝘶
❖ 𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯, 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘭𝘮𝘶, 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘭 ❖
༶•┈┈⛧┈♛❀✤❀♛┈⛧┈┈•༶

Leave A Comment