Pemateri : Kurrata Ayun, S.Si, M.Si
Iman Sebelum Apapun
بِسْـمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ.
“Kami panjatkan segala puji kepada Allah dan kami mohon pertolongan-Nya. Seraya memohon ampun dan perlindungan-Nya dari segala keburukan jiwaku dan kejelekan amaliahku. Barang siapa telah Allah berikan petunjuk jalan baginya, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk”
ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
“Kami panjatkan segala puji kepada Allah dan kami mohon pertolongan-Nya. Seraya memohon ampun dan perlindungan-Nya dari segala keburukan jiwaku dan kejelekan amaliahku. Barang siapa telah Allah berikan petunjuk jalan baginya, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk”
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي , وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي , وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي , يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَزِدْنَا عِلْمََا, وَاصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ, وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى اَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنِِ
” Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan jadikanlah bermanfaat bagi kami apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami, dan perbaikilah seluruh urusan kami, dan jangan pikulkan kepada kami walau sekejap matapun”
Mari kita panjatkan segala puji dan syukur kepada Allah yang telah berikan kita kesempatan, kekuatan, dan taufiq sehingga kita bisa belajar bersama dalam majelis ilmu ini. Semoga Allah jadikan ilmu ini menjadi bekal untuk menghadap Allah ta’ala nanti. Aamiin Allahumma aamiin.
Mari kita curahkan pula sholawat serta salam kepada Nabi kita, teladan kita Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ yang telah berlelah lillah berjuang dengan peluh, tekanan, cacian, serta ancaman menyampaikan petunjuk hidup yang haq kepada kita secara sempurna nan paripurna. Beliau ﷺ yang senantiasa memikirkan kita ummatnya bahkan di kondisi terberatnya. Beliau ﷺ yang mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang agung. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.
Apa kabar teman-teman shalihah pemelajar rahimakunnallah?
Saya meminta kepada Allah Ar Rahmaan agar senantiasa memberikan kita limpahan rahmat, Taufiq dan penjagaanNya di hari ini. Alhamdulillaah hari ini hari jum’at, hari yang maasyaa Allah, Allah jadikan sebagai hari raya kita dengan berbagai keutamaannya. Semoga kita dapat memanfaatkan kesempatan dan mengambil keberkahan di hari Jum’at ini dengan mengamalkan sunnah-sunnah di hari Jum’at serta belajar bersama dalam majelis ilmu ini.
Bagi teman-teman yang baru bergabung, Ahlan wa sahlaa dalam sesi ke-7 TeMu HCE 2026. TeMu HCE ini merupakan kegiatan tahunan HCE (Home of Character Education) dalam syi’ar ilmu parenting Pendidikan Karakter Nabawiyah yang berlandaskan Qur’an dan Sunnah. Bagi teman-teman yang qadarullah terlewat menyimak sesi sebelumnya, insyaa Allah akan dibagikan tautan rekaman dan materi sesi tebar ilmu yang sudah terlaksana.
Saya mohon kepada Allah agar Allah memberkahi ilmu para pemateri dan Allah mudahkan kami para penuntut ilmu untuk menyimak, memahami dan mengamalkan ilmunya. Insyaa Allah sesi ke-7 ini merupakan satu-satunya sesi dalam bentuk kuliah whatsapp dikarenakan kondisi saya yang belum memungkinkan mengisi webinar dengan kondusif. Mohon permaklumannya…
Perkenalkan saya Ayun Ummu Fa seorang Ibu Rumah Tangga yang saat ini Allah anugerahi 3 anak laki-laki berusia 7, 5, dan 1 tahun. Saat ini saya dalam masa pindahan dari Bogor ke Mataram, NTB. Adakah di sini yang berdomisili Mataram? Semoga suatu saat bisa bertemu langsung dengan teman-teman sesama pemelajar di sini untuk merajut sila ukhuwah yaa.
Sebelumnya disclaimer ya teman-teman shalihah. Saya di sini bukan sebagai seorang pakar, ahli, ataupun ustadzah. Saya hanya seorang penyintas penganut teori parenting yang salah, yang atas taufik dari Allah Al Hadi memberikan saya petunjuk teori parenting yang bersumber langsung dari sumber segala ilmu, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Menemukan metode Pendidikan Karakter Nabawiyah (PKN) berbasis fitrah ini seperti menemukan oase di tengah gurun dan harta karun untuk saya sebagai orang tua yang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya sebagai bentuk tanggungjawab atas amanah dan anugerah yang telah Allah berikan yaitu anak.
Alhamdulillaah laa haulaa wa laa quwwata illaa billah.
Maka, izinkan saya untuk sedikit berbagi sedikitnya ilmu yang saya miliki sebagai wujud syukur saya Allah telah berikan petunjuk ini. Saya sangat berharap semakin banyak orang tua yang bisa merasakan kebahagiaan dan ketenangan mendidik di tengah era banjir informasi ini. Bukan dengan mengagungkan teori barat atau negara adidaya yang dianggap paling benar, namun kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagai manual book langsung dari Sang Pencipta. Sebelumnya mohon maaf jika nanti dalam penyampaian akan banyak intermezzo karena sambil disambi ngasuh bayi dan anak-anak.
Barakallahu fiikum.
Teman-teman, mari sejenak kita merenung fenomena yang terjadi hari ini…
Mengapa ketika semakin banyaknya bermunculan sekolah berbasis Qur’an, tapi justru semakin sedikit yang mengamalkan syari’at islam?
Mengapa banyak pelajar yang terlihat sholih ketika masa sekolah, namun ketika lulus justru sangat liar melakukan pemberontakan?
Mengapa banyaknya bermunculan penghafal Qur’an, tapi akhlaknya tidak mencerminkan kebaikan?
Mengapa banyak orang yang melakukan gerakan ritual sholat, tapi maksiat tetap jalan?
Mengapa banyak orang cerdas melakukan korupsi dan kedzoliman?
Allahul musta’an.
Umat islam saat ini begitu banyak seperti buih di lautan, namun lemah tidak kokoh pendirian dan mudah mengikuti arus gelombang.
Maka benarlah yang Rasulullah telah sampaikan 14 abad lalu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ. وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
“Akan datang suatu masa di mana musuh-musuh (bersatu-padu dan) berlomba-lomba untuk memerangi kalian. Sebagaimana berebutnya orang-orang yang sedang menyantap makanan di atas nampan”. Salah seorang sahabat bertanya, *“Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?”. Beliau menjawab, “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan.* Allah akan membuang rasa takut mereka kepada kalian, dan akan memasukkan wahn di dalam hati kalian.
“Apakah wahn itu wahai Rasul?” tanya salah satu sahabat.
Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian”
(HR. Imam Abu Dawud dari Tsauban dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani).
Subhanallah.
Hal ini sangat kontras dengan kondisi ketika masa kejayaan islam. Belum pernah tercatat dalam sejarah dunia, dalam waktu 30 tahun masa pemerintahan khulafaur Rasyidin, Islam hampir menguasai sepertiga dunia. Padahal saat itu sedang ada dua negara adidaya yang berkuasa yaitu Romawi dan Persia, sedangkan Islam yang berasal dari tanah Arab tidak diperhitungkan karena miskin, kering dan terbelakang.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Ternyata ada satu hal fundamental yang terabaikan dari fokus pendidikan kita hari ini, yaitu Pendidikan Iman.
Ada sebuah pohon yang Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam ibaratkan seorang muslim. Pohon apa itu?
Ia adalah pohon yang bisa bertahan di tempat yang nyaris tak memberi ampun bagi kehidupan namun justru menjadi sumber kehidupan. Ya, itu merupakan Pohon kurma.
Pohon kurma tumbuh di tanah kering, bertahan di panas ekstrem, dan sejak ribuan tahun lalu menjadi penopang peradaban manusia. Tapi bagaimana sebenarnya pohon ini bisa hidup dan atas izin Allah memberi hidup?
Sejarah mencatat banyak peradaban lahir di sekitar pohon kurma. Bukan hanya karena buahnya tapi karena pohon kurma menyediakan makanan, naungan, air, hingga arah hidup di tengah gurun.
Daun kurma membentuk kanopi alami yang melindungi tanah dibawahnya dari panas berlebih menciptakan lingkungan yang memungkinkan tanaman lain tumbuh.
Buah kurma menyimpan energi tinggi gula alami mineral dan vitamin dijadikannya sumber nutrisi penting terutama di wilayah dengan keterbatasan pangan.
Di berbagai negara, kurma menjadi tulang punggung ekonomi dari petani kecil hingga pasar global. Pohon ini memberi nilai ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Maasyaa Allah betapa berkahnya pohon kurma. Ia bukan pohon biasa. Setiap bagian tubuhnya memiliki fungsi tidak ada yang sia-sia. sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ
“Dari Abdullah bin umar beliau berkata: “Ketika kamu duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim’. Lalu aku menerka itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan dia adalah pohon kurma, wahai Rasulullah. Kemudian aku menengok dan mendapatkan aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: ‘Ia adalah pohon kurma.’” (diriwayatkan oleh Bukhari dalam shohihnya, 3/444)
Lalu bagaimana kurma ini bisa tumbuh dengan memberikan begitu banyak keberkahan?
Ternyata pohon kurma adalah pohon yang tumbuh memakan waktu yang tidak sebentar. Menanam pohon kurma menuntut kesabaran dan ketelatenan.
Mari kita lihat apa yang pertama kali ditumbuhkan dan dikuatkan sebelum pohonnya tinggi menjulang ke atas, kokoh di medan ekstrim, tahan di cuaca panas, angin dan kekeringan, serta akhirnya menghasilkan buah?
Ya Akar. Akar pohon kurma sangat kokoh, kuat dan panjang. Ia mampu tumbuh sangat panjang sehingga menjangkau sumber air di bawah tanah yang tandus. Ia yang pertama kali ditumbuhkan difokuskan, dan dikuatkan.
Karena pohon yang berakar dalam akan tegak meski diterpa badai zaman. Dari akarnya yang kuat lahirlah batang dan daun yang memberikan manfaat. Dari akarnya yang kokoh menghasilkan buah-buahan yang dapat dipanen setiap waktu atas izin RabbNya. Dan dari akar yang menghujam, pohon kurma bisa bertahan hidup di lingkungan ekstrim ribuan tahun lamanya. Maasyaa Allah. Laa haul awa laa quwwata illa billah.
dan perumpamaan akar itu pada manusia, adalah iman.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
(QS. Ibrahim: 24-25).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa:
- Kalimat yang baik adalah Laa Ilaaha Illallah
- Pohon yang baik adalah seorang mukmin
- Cabangnya yang menjulang adalah amal yang diangkat ke langit
- Buahnya yang terus menerus adalah amal shalih yang bermanfaat dan diberkahi
- Akarnya yang teguh adalah tauhid keimanan yang tertanam di dalam hati
Demikianlah perumpamaan seorang mukmin.
Iman dan tauhid adalah akar. Amal dan Akhlak adalah buahnya.
Lalu bagaimana cara menumbuhkan iman?
Begitu banyak teori-teori parenting yang beredar di luar sana. Masing-masing membawa hujjahnya. Ada yang saling menyempurnakan, pun tidak jarang yang justru kontradiksi.
Maka, ketika sudah merasa bingung dan abu-abu di tengah era banjirnya informasi ini, mari kembali lagi kepada pedoman hidup sejati, yaitu:
- Al Qur’an
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةً وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ
“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 51)
- Sunnah Nabi
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab:21)
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَة نَبِيهِ
“Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang tidak akan menjadikan kalian tersesat selagi kalian berpegang teguh denganya yaitu *al-Qur’an* dan *Sunah nabiNya*“. (HR Muslim no: 1218)
- Teladan Generasi Terbaik
Ada 3 generasi terbaik yang Rasulullah sebutkan sebagai generasi terbaik sepanjang masa:
- Sahabat: adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah ﷺ secara langsung, beriman pada risalahnya dan wafat dalam membawa iman.
- Tabi’in: adalah orang yang tak bertemu secara langsung dengan Rasululllah ﷺ, hanya bertemu dengan Sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka berguru pada Sahabat terkait tsaqafah Islam.
- Tabi’ut Tabi’in: adalah orang yang tak bertemu secara langsung dengan Sahabat Rasulullah ﷺ, hanya bertemu dengan tabi’in untuk berguru.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata: “Barang siapa di antara kalian ingin mengikuti sunnah, maka ikutilah sunnah orang-orang yang sudah wafat. Karena orang yang masih hidup, tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan). Mereka ialah sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka merupakan generasi terbaik umat ini, generasi yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang tidak banyak mengada-ada, kaum yang telah dipilih Allah menjadi sahabat Nabi-Nya dalam menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka, berpegang teguhlah dengan akhlak dan agama mereka semampu kalian, karena mereka merupakan generasi yang berada di atas Shirâthal- Mustaqîm.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198)
ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. Al-Jaatsiyah: 18].
Maka, metode terbaik itu bukan dari seberapa panjang tittle seorang ahli, bukan dari pemahaman barat yang terkesan paling up to date dan ilmiah, bukan pula dari seberapa viral metode itu diterima di Masyarakat.
Namun metode terbaik itu berasal dari Al Qur’an dan Sunnah serta meneladani generasi terbaik sepanjang masa.
Ada sebuah kondisi yang kontras, yang membedakan metode pendidikan generasi terbaik sepanjang masa dengan generasi umat islam hari ini.
Apakah itu?
Mari kita simak penuturan Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berikut:
«لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا، وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا، وَآمِرَهَا وَزَاجِرَهَا، وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا، كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ وَلَا زَاجِرُهُ، وَلَا مَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ»
“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur’an. Saat diturunkan surah Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Al-Qur’an. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar Al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.” (HR. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy).
Seperti apa tahapan belajar Qur’an yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ? Apakah langsung menghafal Qur’am, belajar membaca, belajar tajwid, Tahsin, atau kajian tafsir?
Ternyata tidak. Ada proses inti dan paling mendasar, yaitu IMAN.
Yang dimaksud belajar iman adalah merasakan dengan hatinyha nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Secara global nilai-nilai dalam Al Qur’an terbagi menjadi Aqidah, Ibadah, dan Akhlak. Nilai-nilai tersebut seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca Al-Qur’an dan hukum yang lebih komprehensif.
Nilai-nilai bahwa Allah maha esa, Allah maha pengasih, Allah tempat bersandar, Allah maha kuasa.
Keyakinan yang kuat bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah.
Sehingga di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca Al-Qur’an, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.
Janganlah kita seperti kaum yang dijadikan perumpamaan buruk dalam Al-Quran surah Al-Jumuah ayat 5. Membawa Kitab suci dalam dirinya dan ingatannya namun mendustakan isinya.
Diberi tugas menjaga Kitab-Nya namun tidak beriman kepada kandungannya, malah dzalim dengan mengubahnya. Hal ini disebabkan karena tidak ada iman dalam dirinya. Na’udzubillaah.
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS Al-Jumu’ah [62]: 5)
Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar Al-Qur’an sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.
Subhanallah. Ada yang relate dengan hadits tersebut?
Betapa hari ini, pendidikan kita menggegas pendidikan Qur’an sebelum iman. Sekolah-sekolah usia dini dengan kurikulm Qur’ani menjamur. Para orang tua pun berlomba-lomba mendaftarkan anaknya, berharap sang anak menjadi anak yang sholih generasi Qur’ani. Tidak jarang orangtua pun memiliki niat yang salah. Ingin anak terlihat hebat dengan kesholihannya sejak dini. Ingin anak terlihat hebat dengan jumlah hafalannya sejak dini. Padahal Rasulullah menyampaikan ada 3 golongan manusia yang *pertama kali* dijebloskan ke dalam neraka (sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim (no. 1905)). Ia adalah orang-orang yang secara lahiriah melakukan amal shalih besar yaitu seorang ahli ilmu, Seorang Mujahid, dan seroang dermawan namun di dalamnya terdapat penyakit riya (ingin dipuji) dan sum’ah (ingin didengar), bukan ikhlas karena Allah. Na’udzubillaah
Namun, apakah benar metodenya demikian?
Salah kaprah menumbuhkan iman
Banyak orang yang menyangka bahwa mendidik iman kepada anak dengan:
- Menggegas hafalan sedini mungkin tanpa memperhatikan ketertarikan anak pada hafalan
- Mengajarkan bahasa arab sebelum bahasa ibu tuntas
- Mendahulukan mengajarkan syari’at atau ibadah daripada memberikan waktu anak merasakan cinta dari Rabbnya-sehingga anakpun mencintai Rabbnya
- Banyak memberikan cerita buruk dan peringatan tentang ancaman dan adzab Allah
- Mendiktekan anak menghafal rukun islam dan iman
- Menguji hafalan do’a dan hafalan Qur’annya
- Memperbaiki tajwid dan makhrojal huruf sedini mungkin
- Memaksa anak untuk beradab sedini mungkin
- Menjadi CCTV yang senantiasa memerintah, melarang, dan mengoreksi gerak-gerik anak agar tetap pada syari’at
Padahal iman adalah perkara hati bukan ajang berlomba prestasi. Ia tidak bisa ditumbuhkan dengan bahasa lisan. Bahkan ia bisa mati dengan bahasa ketegasan.
Cara menumbuhkan iman itu berbeda dengan cara mengajarkan ilmu. Jika iman diajarkan seperti mengajarkan ilmu, maka akan menghasilkan anak yang pintar ilmu tentang iman namun tidak beriman.
Pangkal iman itu bukan di otak, tetapi mendasar di hati. Maka mendidik iman tidak bisa dengan cara mengisi otak dengan pengetahuan tentang iman, tetapi iman itu akan tumbuh karena tersentuh oleh perasaan. Rasa di hati tumbuh bukan karena dipahamkan pengetahuan, tetapi tumbuh karena kecintaan.
Lalu, bagaimana menumbuhkan iman itu?
Mari kita teladani, bagaimana Rasulullah menumbuhkan iman para sahabat. Silahkan dihayati, betapa sungguh luar biasa akhlaknya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
Contoh Rasulullah dalam menumbuhkan iman pada anak:
- Memaklumi apabila anak mengompol di gendongan atau pangkuannya
Nabi ﷺ apabila mendapati anak mengompol di pangkuan beliau, beliau memakluminya, menunggunya sampai selesai, tidak mencelanya, tidak mengagetkannya, ataupun memarahinya. Sebagaimana dalam sebuah hadits:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi berkata, telah menceritakan kepada kami Usamah bin Zaid dari Amru bin Syu’aib dari Ummu Kurzin Al Khuzai’iyyyah dia berkata “Seorang anak kecil laki-laki didatangkan kepada Nabi ﷺ dan kencing dipangkuan beliau, maka nabi ﷺ memerintahkan untuk memerciknya (setelag selesai kencingnya-pen), dan didatangkan kepada beliau anak kecil perempuan dan kecing di pangkuan beliau, maka beliau memerintahkan untuk mencucinya (HR. Ahmad, Musnadul Qabail, 26104)
********
Maasyaa Allah. Betapa sikap Rasulullah mencerminkan akhlak mulia. Rasulullah ﷺ tidak membuat anak kecil takut, menangis, ataupun terkejut ketika tidak sengaja mengencinginya. Betapa beliau ﷺ menjaga hati sang anak agar tetap merasa aman dan nyaman.
Hal ini pun menjadi teladan bagi orangtua dalam toilet training kepada ananda. Agar tidak membuat anak terkejut atau takut ketika ananda terlihat mulai mengompol. Biarkan anak menuntaskan hajatnya dulu lalu bantu menyucikan sang anak tanpa mencela atau pun memarahinya.
- Mempercepat shalat karena mendengar tangisan anak kecil
Anas berkata, “Belum pernah aku shalat di belakang seorang imam pun yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya dari pada Nabi ﷺ. Jika mendengar tangisan bayi, maka beliau ringankan shalatnya karena khawatir ibunya akan terkena fitnah (HR. Al Bukhari, Kitabul Adzan, 667).
***
Bahkan dalam ibadah paling utama yaitu sholatpun, Rasulullah ﷺ memberikan udzur dan mengutamakan sang anak. Maka, lihatlah betapa mulianya akhlak beliau. Ia ﷺ tidak menggegas sang anak untuk diajarkan sabar sejak dini. Ia ﷺ paham fase perkembangan anak, bahwa anak kecil belum paham tentang makna sabar. Yang anak kecil (thufulah) tahu bahwa apa yang ia inginkan harus segera terpenuhi dengan cara menangis.
- Membuat hati anak-anak selalu gembira walaupun Nabi ﷺ dalam keadaan shalat
Dari ‘Abdullah bin Syaddad dari bapaknya (diriwayatkan), ia berkata, Rasulullah ﷺ pergi kepada kami di dalam salah satu shalat ‘Isya’, ia membawa Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah ﷺ ke depan dan meletakkan (Hasan atau Husain), kemudian beliau bertakbir untuk shalat lalu mengerjakan shalat. Saat shalat beliau sujud yang lama, maka ayahku berkata, ‘lalu aku mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah ﷺ yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud.’
Setelah Rasulullah ﷺ selesai shalat, orang-orang berkata, “wahai Rasulullah ﷺ, saat shalat engkau memperlama sujud, hingga kami mengira bahwa ada sesuatu yang telah terjadi atau ada wahyu yang diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab, “bukan karena semua itu, tetapi cucuku (Hasan atau Husain) menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau membuatnya terburu-buru, (aku biarkan) hingga ia selesai dari bermainnya” [HR. an-Nasa’i nomor 1129 dan Ahmad nomor 15456].
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad. Bahkan seorang Rasulullah ﷺ yang sedang mengimami sholat pun tetap menyenangkan hati beliau. Kontras dengan kebanyakan orangtua saat ini. Seringkali kebanyakan orangtua memarahi, membentak atau bahkan mengancam anak kecil di depan umum yang bisa melukai hatinya dan menjatuhkan muru’ahnya.
Mari kita bayangkan dari POV anak kecil. Ketika kecil, kau sangat senang suasana masjid. Nyaman, luas, menenangkan. Kau sangat senang sehingga berlarian, tertawa, dan berekspresi sesuka hati. Namun datang sosok lelaki dewasa bersorban yang menghampirimu, membentakmu, memelototimu, menasehatimu dan memukulmu agar kau diam. Nasehatnya tidak sampai kepadamu, namun rasa takutnya dimarahi, rasa malunya dimarahi di depan umum, dan rasa sedihnya dilarang bermain di masjid melekat begitu dalam sehingga menjadikan kau benci masjid, bapak-bapak bersorban, atau sholat itu.
Na’udzubillaah.
Maka, Rasulullah ﷺ pun mengajarkan untuk tetap menyenangkan hati anak bahkan dalam ibadah paling utama sekali pun. Lihatlah Rasulullah tidak segera menurunkan anak dari punggungnya. Ia ﷺ tidak berdalih mengajarkan anak sejak dini dengan segera menurunkannya, menasehatinya, atau memarahinya yang dapat melukai hati anak.
Ia ﷺ justru memuaskan keinginan sang anak. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
- Nabi ﷺ pernah menghentikan khotbah dan meninggalkan mimbar untuk menyambut anak kecil yang berjalan tertatih-tatih.
Abdullah bin Buraidah telah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata:
“Pada suatu hari Rasulullah ﷺ sedang naik ke atas mimbar dan memberikan khotbah kepada manusia. Beliau ﷺ melihat Al Hasan dan Al Husain datang, berlari dan tersandung. Seketika Rasul berhenti dari khotbahnya dan turun dari mimbar lalu menghampiri cucu-cucunya, menggendongnya, kemudian naik ke mimbar lagi, seraya berkata: “Hai sekalian manusia, harta dan anak-anak kamu hanyalah fitnah (ujian), demi Allah aku melihat anak cucuku berlari dan tersandung, maka aku tidak dapat menahan diri untuk turun dan menggendong keduanya” (Shahih At Tirmidzi).
Maa syaa Allah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad. Lihatlah betapa Rasulullah ﷺ demi menjaga hati dan perasaan anak, beliau ﷺ rela turun dari mimbar ketika beliau berkhutbah di hadapan para sahabat beliau ﷺ di masjid.
Ia ﷺ tidak mengusir, memarahi, ataupun memelototi cucunya yang datang menghampirinya ketika berkhutbah. Ia ﷺ bahkan menghentikan khutbahnya sejenak yang merupakan kepentingan banyak orang dewasa demi menyenangkan hati cucu-cucunya. Lalu berdasarkan metode pendidikan apa orangtua saat ini yang mengajarkan anak-anak beradab sejak dini dengan ketegasan yang melukai? Padahal suri teladan terbaik mengajarkan pendidikan dengan bahasa hati.
- Rasulullah ﷺ tersenyum dan menciumi anak-anak
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Nabi ﷺ mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al Aqro’ berkata, “Aku punya sepuluh orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah ﷺ pun melihat kepada Al Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (Shahihul Adabul Mufrad, Al Albani, 67)
***
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perasaan atau hati anak sangatlah peka terhadap perilaku kasar yang dilakukan orang tua kepadanya. Demikian juga jika orang tua lembut terhadapnya, sang anak pun akan sangat tersentuh dan dapat merasakan kasih sayang orangtuanya yang akan menjadi jembatan sang anak mencintai penciptanya.
- Tidak membohongi anak walaupun masih kecil
Dari Abdullah bin ‘Amir dia berkata:
“Rasulullah ﷺ mendatangi kami di rumah kami. Waktu itu saya (Abdullah bin ‘Amir) masih kecil. Abdullah bin ‘Amir berkata: saya akan berangkat dan pergi untuk bermain. Lalu ibuku berkata: wahai Abdullah, kemarilah! Saya akan memberikan sesuatu. Lalu Rasulullah ﷺ berasabda kepadanya, apakah yan ghendak kau berikan kepadanya? Dia menjawab, saya akan memberikan kurma. Abdullah bin ‘Amir berkata: lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, jika kau tidak melakukannya maka itu akan dicatat sebagai kedustaan (HR. Bukhari)
***
Lihatlah, betapa Rasulullah ﷺ berakhlak mulia bahkan kepada anak kecil sekalipun. Ia memperlakukan anak kecil selayaknya seorang yang perlu dijaga hatinya, dijaga harga dirinya, dan dijaga kepercayaannya. Sementara tidak sedikit orangtua saat ini yang menjadikan iming-iming palsu untuk menenangkan anaknya atau bernegosiasi dengan anaknya. Padahal, dari kejujuran muncullah rasa percaya. Dan dari rasa percaya ini menjadi salah satu bekal utama menumbuhkan keimanan dan mendidik anak dengan keteladanan.
- Mengajak anak bermain dengan menaiki kendaraan
Dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata:
“Rasulullah ﷺ apabila tiba dari suatu perjalanan, biasanya beliau menemui kedua anak kecil dari ahlul baitnya”. Abdullah bin Ja’far berkata, “Pernah suatu hari beliau datang dari suatu perjalanan, lalu aku segera menyambutnya, maka beliau meletakkan aku di depan beliau, kemudian salah satu putra Fatimah datang lalu beliau meletakkannya di belakang beliau. Dan kami bertiga masuk ke Madinah dengan menaiki hewan tunggangan beliau (HR. Muslim no. 4455).
***
Dulu ketika masa sekolah saya pernah membaca hadits ini. Ketika itu saya tidak mengerti apa yang ingin disampaikan dari hadits ini. Namun sekarang, membaca hadits-hadits ini membuat saya semakin mencintai Rasulullah ﷺ. Bayangkan, kondisi setelah safar. Bukan safar seperti sekarang yang hitungannya sehari dua hari. Safar dengan hewan tunggangan, bukan dengan mobil ataupun pesawat. Terbayang bagaimana letihnya dan ingin segera sampai ke rumah. Namun tidak dengan beliau ﷺ. Di kondisi lelahnya pun beliau ﷺ menyempatkan untuk bermain dan menyenangkan hati anak-anak. Bukan demi sanjungan atau pujian orangtua sang anak. Namun semata-mata karena mengharap wajah Allah semata. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
- Memberikan kesempatan bermain kepada anak-anak
Ummu Khalid bintu Khalid berkata:
“Aku pernah datang kepada Rasulullah ﷺ bersama ayahku. Waktu itu aku memakai baju kuning. Rasulullah ﷺ pun berkata, ‘Sanah, sanah!’. Abdullah (Ibnul Mubarak) berkata “Kata ini dalam bahasa Habasyah berarti bagus”. Ummu Khalid bercerita lagi, “Lalu aku bermain-main dengan tanda kenabian, hingga ayahku menghardikku. Melihat itu, Rasulullah ﷺ mengatakan ‘Biarkan dia!’. Kemudian beliau bersabda, ‘Pakailah sampai usang, pakailah sampai usang, pakailah sampai usang!” (HR Bukhari no.5993)
***
Sering sekali orang tua pada hari ini menegur, memberi komentar tidak enak, bahkan memarahi anak ketika bermain yang tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku bagi dewasa. Sebagai contoh dalam hadits tersebut, bermain-main dengan tanda kenabian memang tidak layak jika yang melakukannya orang dewasa yang berakal, namun jika yang bermain adalah anak-anak maka Nabi ﷺ membiarkannya dan memberikan kesempatan bermain sepuasnya. Maasyaa Allah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
- Menghargai permainan anak
Nabi ﷺ menghargai sesuatu yang dijadikan mainan oleh anak-anak. Seperti beberapa Riwayat yang menceritakan bahwa Al Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya (sebelum malaikat datang dan mengatakan malaikat tidak dapat masuk ke dalam rumah yang terdapat patung dan anjing); Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya.
Setelah dinikahi Rasulullah, Aisyah membawa serta boneka mainannya ke rumah beliau ﷺ, bahkan Rasulullah mengajak semua teman-teman Aisyah ke dalam rumah untuk bermain bersama Aisyah. Hal tersebut menunjukkan pengakuan dari Rasulullah ﷺ terhadap kebutuhan anak terhadap mainan, hiburan, dan pemenuhan kecenderungan (bakat).
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,
“Dahulu aku biasa bermain boneka-boneka perempuan di sisi Rasulullah ﷺ. Aku memiliki beberapa teman yang biasa bermain denganku. Apabila Rasulullah ﷺ datang, mereka bersembunyi dari beliau. Kemudian beliau menggiring mereka kembali padauk hingga bermain lagi bersamaku” (HR. Al Bukhari no. 6130)
**
Lalu, bagaimanakan dengan keadaan hari ini, generasi gadget yang mainan mereka adalah gadget? Selama mainan tersebut tidak membahayakan bagi mereka baik fisik maupun mental, maka hendaknya orang tua menghargai mainan anaknya tersebut. Namun jika dirasa membahayakan maka hendaklah orangtua mengajarkan menggunakan gadget dengan benar bil hikmah. Jika perlu, orangtua ikut bermain bersama anak untuk membersamainya dan membimbingnya dalam bermain.
- Berdo’a memohon perlindungan kepada Allah untuk anak dari godaan syaitan
Setiap anak terlahir fitrah (islam), kemudian syaithon tak henti-hentinya menggoda manusia untuk memalingkannya agar menyimpang dari jalan agama yang lurus. Bahkan Rasulullah ﷺ pun memohon perlindungan kepada Allah untuk anak dari godaan syaithon.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anha berkata:
Nabi ﷺ biasa memohonkan perlindungan untuk Al Hasan dan Al Husain (dua cucu beliau), dan berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamu pernah memohonkan perlindungan untuk Isma’il dan Ishaq dengan kalimat ini.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
“‘Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk).” (HR. Bukhari, no. 3371).
***
Sebagus apapun ilmu parenting yang dimiliki, seampuh apapun konsep dan metode pendidikan yang dipelajari, seintens apapun ikhtiar yang dilakukan, semua tiada artinya tanpa mendekatkan dan menyandarkan kepada Allah ta’ala melalui do’a. Bahkan Rasulullah ﷺ yang ma’shum (terjaga) dan gerak geriknya senantiasa dalam petunjuk Allah pun selalu berdoa kepada Allah ta’ala
- Meminta izin berkenaan dengan hak anak
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idiy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أُتِىَ بِشَرَابٍ ، وَعَنْ يَمِينِهِ غُلاَمٌ وَعَنْ يَسَارِهِ أَشْيَاخٌ ، فَقَالَ لِلْغُلاَمِ « أَتَأْذَنُ لِى أَنْ أُعْطِىَ هَؤُلاَءِ » . فَقَالَ الْغُلاَمُ لاَ ، وَاللَّهِ لاَ أُوثِرُ بِنَصِيبِى مِنْكَ أَحَدًا . فَتَلَّهُ فِى يَدِهِ
“Rasulullah ﷺ pernah disodorkan suatu minuman. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak dan sebelah kiri beliau terdapat para sepuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada anak tersebut, “Apakah engkau mengizinkanku memberikan minuman ini terlebih dahulu pada mereka yang lebih sepuh? Pemuda itu menjawab, “Tidak. Demi Allah aku tidak mau bekas dari minummu yang sebenarnya sebagai jatah untukku lebih dahulu diserahkan pada selainku.” Lantas minuman tersebut (bekas dari Rasulullah ﷺ) diserahkan ke tangan anak tersebut.” (HR. Bukhari no. 2605 dan Muslim no. 2030).
***
Lihatlah bagaimana Rasulullah memuliakan seorang anak dengan tetap meminta izin atas hak sang anak. Kontras dengan orangtua sekarang yang seringkali memaksa sang anak apalagi usia thufulah untuk mau berbagi tanpa memedulikan perasaan sang anak. Bahkan seringkali menggunakan atau meminjamkan barang anak kepada orang lain tanpa izinnya yang dapat mempengaruhi kondisi hati anak. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad,
- Berdialog iman ketika anak senang dan dalam perjalanan
Rasulullah menyampaikan nasehat kepada Ibnu Abbas kecil ketika Rasulullah sedang memboncengnya dalam perjalanan.
Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (Hadits Riwayat At Tirmidzi no. 2516)
***
Rasulullah pun memberikan nasehat dengan dialog keimanan di momen-momen hati anak mudah menerima nasehat, yaitu ketika hati anak senang dan ketika di perjalanan. Lihatlah bagaimana Ibnu Abbas kecil ketika itu senang diboncengi Rasulullah. Ia merasa disayangi, dilayani, dan terpenuhi kebutuhan sentuhan fisiknya. Lalu ketika itu, Rasulullah pun memberikan nasehat-nasehat yang sesuai dengan kadar pemahamannya. Maasyaa Allah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
Maasyaa Allah. Betapa pribadi Rasulullah tercermin akhlak yang mulia. Dan masih banyak lagi kisah-kisah hikmah Rasulullah ﷺ yang mencerminkan bahwa Islam tidak mengajarkan pola pendidikan dengan cara kekerasan. Sebaliknya, Islam justru sangat menekankan pola pendidikan yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dalam Qur’an Surah An Nahl:125, Allah berfirman
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
“Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila ka mu telah membulatkan tekad, ber ta wakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada- Nya.” (QS Ali Imran [3]: 159)
Ternyata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan iman dengan menumbuhkan cinta. Cinta tidak diajarkan dengan logika, tapi cinta dialirkan dengan bahasa hati. Cinta tidak tumbuh dengan nasehat lisan, ancaman, dan tekanan. Ia tumbuh melalui akhlak mulia, kelembutan, kebahagiaan, dan rasa aman. Melalui pendekatan lemah lembut ini, diharapkan dapat membentuk jiwa anak yang siap untuk menerima, merespons, dan melaksanakan setiap panggilan kebaikan dengan penuh kesadaran, bukan keterpaksaan.
Maka, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah menumbuhkan iman bukan dengan panjangnya nasehat, tegas yang memaksa, ataupun banyaknya hafalan. Ia ﷺ menumbuhkan iman dengan bahasa hati melalui ucapan dan keteladanan.
(3 Bahasa Hati, dikutip dari Tulisan Bunda Khusna Ummu Hubbi Hafidzahallahu ta’ala)
Bahasa hati dalam menumbuhkan iman pada anak usia thufulah bertumpu pada tiga pilar utama: perlindungan, pembersamaan, dan pelayanan. Ketiganya menjadi sarana batin bagi anak untuk merasakan kehadiran Allah melalui orang tua dan pendidik.
- Perlindungan
Perlindungan adalah kebutuhan paling mendasar bagi anak. Ketika anak merasa aman, jiwanya terbuka untuk tumbuh. Rasa aman inilah pintu pertama keimanan.
Allah Ta’ala berfirman:
فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلْبَيْتِ
ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ
“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.”
(QS. Quraisy: 3–4)
Perhatikan, sebelum Allah menyebut ibadah, Allah menyebutkan nikmat rasa aman.
Ini menunjukkan bahwa rasa aman adalah pintu menuju pengenalan kepada Allah.
Jika anak sering dimarahi tanpa arahan, dibandingkan, atau diancam, hatinya tidak tenang. Tauhid sulit tumbuh di hati yang penuh ketakutan yang tidak seimbang.
Sebaliknya, anak yang merasa aman akan lebih mudah menerima nilai ilahiyah.
Perlindungan bukan hanya menjaga fisik anak, tetapi juga menjaga:
- Emosinya dari bentakan dan ancaman
- Jiwanya dari rasa ditinggalkan
- Martabatnya dari penghinaan
Saat orang tua melindungi dengan lembut dan konsisten, anak sedang belajar satu pesan tauhid yang sangat dalam:
Ada yang menjaga aku.”
Allah ﷻ berfirman:
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 257)
Ketika anak merasakan perlindungan melalui figur orang tua, ia sedang dipersiapkan untuk mengenal Allah sebagai Al-Wali—Pelindung sejati.
- Pembersamaan
Pembersamaan berarti hadir secara utuh bersama anak—bukan sekadar secara fisik, tetapi secara emosi dan jiwa. Anak usia thufulah membutuhkan kehadiran yang nyata, bukan sekadar instruksi.
Pembersamaan meliputi:
- Mendampingi anak saat takut, gagal, atau sedih.
- Menyertai proses tumbuh kembang dan belajar, bukan hanya menilai hasil.
- Membersamai doa, harapan, kebutuhan, tangis, dan tawa anak.
Inilah bentuk konkret menanamkan makna:
“Allah selalu bersama hamba-Nya.”
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid: 4)
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam pembersamaan, beliau hadir dengan bahasa hati bersama anak. Beliau menggendong cucunya, Hasan dan Husain, bahkan ketika sedang berkhutbah.
Beliau memanjangkan sujud ketika cucunya menaiki punggung beliau.
Itu bukan sekadar kasih sayang. Itu adalah pendidikan tauhid melalui rasa.
Anak yang sering dibersamai akan merasa dirinya berharga. Dari rasa berharga itu tumbuh kepercayaan diri dan keterikatan yang sehat. Dan dari keterikatan yang sehat kepada orang tua, anak lebih mudah diarahkan untuk mengenal Rabb-nya.
- Pelayanan
Pelayanan dalam konteks pendidikan tauhid bukan memanjakan tanpa batas, melainkan melayani kebutuhan dasar anak dengan penuh keikhlasan. Anak usia thufulah belajar tentang cinta bukan dari ceramah, tetapi dari pengalaman dilayani dengan penuh kasih sayang dan cinta tanpa syarat.
Pelayanan meliputi:
- Kesabaran saat anak belum mampu
- Kelembutan saat anak belum paham
- Kesiapan orang tua untuk menurunkan ego
Pelayanan yang tulus membentuk pesan tauhid yang halus namun kuat:
“Aku berharga tanpa harus membuktikan apa-apa.”
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam pelayanan penuh kasih kepada anak-anak—memeluk, memangku, dan tidak merendahkan mereka.
Maka bahasa hati pelayanan mesti diwujudkan dengan penuh kelembutan dan niat untuk ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap urusan“. (HR.Bukhari–Muslim).
Ketika ibu menyuapi dengan doa, ketika ayah memeluk sebelum tidur, ketika orang tua mendoakan anak secara terbuka—semua itu adalah penyiraman akar tauhid.
Anak belajar bahwa hidup ini penuh cinta dan kasih sayang.
Dengannya anak akan belajar mencintai Allah.
Maka, dapat disimpulkan bahwa Rasulullah menumbuhkan iman bukan dengan panjangnya nasehat, tegas yang memaksa, ataupun banyaknya hafalan. Ia ﷺ menumbuhkan iman dengan bahasa hati melalui ucapan dan keteladanan.
Menumbuhkan iman adalah fondasi paling penting sebelum apapun. Iman ibarat akar yang menopang pertumbuhan karakter selanjutnya agar menjadi baik dan berbuah manfaat.
Namun jika orangtua fokus kepada kecerdasan saja, kecerdasan tanpa iman akan merusak.
Pun jika orangtua hanya fokus pada bakat yang menghasilkan karya saja, produktivitas tanpa iman pun akan merusak.
Mari perhatikan buah dari keimanan para sahabat dengan berbagai perannya bagi peradaban islam. Mengenal sahabat yang dijamin surga bukanlah sekadar untuk mengagumi mereka, tetapi untuk menjadikan mereka pelajaran dan teladan hidup. Dari Abu Bakar kita belajar kesetiaan, dari Umar kita belajar keadilan, dari Utsman kita belajar kedermawanan, dan dari Ali kita belajar keberanian dan ilmu. Demikian pula dari sahabat lainnya, kita menemukan berbagai sifat mulia yang bisa menjadi bekal dalam menjalani kehidupan ini.
Walaupun dalam kondisi berbeda-beda, karakter, dan bakat yang berbeda namun semuanya memiliki kesamaan, yaitu keimanan yang kokoh.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq (Setia dan Berkorban): Beliau Radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang membenarkan wahyu, rela mengorbankan seluruh harta dan nyawanya untuk mendampingi Nabi ﷺ, terutama saat hijrah ke Madinah.
Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu,
مَا فَاقَ أَبُوْ بَكْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أَصْحَابَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصَوْمٍ وَلاَ صَلاَةٍ ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ كَانَ فِي قَلْبِهِ ، قَالَ : الَّذِي كَانَ فِي قَلْبِهِ الحُبُّ للهِ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَالنَّصِيْحَةُ فِي خَلْقِهِ
“Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hatinya.”
- Bilal bin Rabah (Iman di atas Siksaan): Sebagai budak, Bilal disiksa majikannya di padang pasir membara karena memeluk Islam. Meski tubuhnya ditindih batu besar, ia tetap kokoh dengan berdzikir, “Ahad, Ahad” (Allah itu Satu).
- Keluarga Yasir (Ketabahan Tanpa Batas): Sumayyah dan keluarganya disiksa kejam oleh kafir Quraisy. Sumayyah menjadi wanita pertama yang syahid dalam Islam, menunjukkan keteguhan imannya hingga akhir hayat.
- Thalhah bin Ubaidillah (Pemberani dan Dermawan): Sering disiksa oleh kaumnya sendiri, tangannya diikat pada leher, namun tetap teguh dan setia berjuang fi sabilillah bersama Nabi.
- Abdullah bin Mas’ud (Berani Menyuarakan Qur’an): Orang pertama yang berani membaca Al-Qur’an dengan keras di depan Ka’bah di hadapan Quraisy, meskipun tahu risikonya dipukul dan disiksa
Maasyaa Allah. Semoga Allah meridhoi dan merahmati mereka semua.
Islam sangat selaras dengan tahapan perkembangan manusia. Penumbuhan karakter iman perlu disesuaikan dengan fase usia dan kondisi karakter perkembangan anak.
Berikut metode Pendidikan Iman yang dikutip dari tulisan Bunda Khusna Ummu Hubbi Hafidzahallahu ta’ala
- Fase Thufulah (usia 0-7 tahun)
Bahasa: Bahasa Hati – Mahabbah (Cinta)
Pada fase ini, anak belajar melalui rasa, bukan logika. Iman ditanamkan melalui rasa aman, cinta, dan kelekatan.
Bentuk implementasi:
Mengenalkan Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Mengaitkan nikmat sehari-hari dengan kasih sayang Allah dan tanda² keagungan Allah melalui ciptaan-Nya.
Doa-doa sederhana dengan nuansa cinta.
Allah ﷻ berfirman:
وَرَحْمَتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A’raf: 156)
Jika tauhid ditumbuhkan dan ditanamkan dengan mahabbah, anak akan mengenal Allah sebagai tempat kembali, bukan suatu sosok yang menakutkan.
- Fase Tamyiz (usia 7-10 tahun)
Bahasa: Bahasa Lisan – Raja’ (Harapan)
Anak mulai mampu membedakan, memahami sebab-akibat, dan menerima penjelasan verbal.
Pada fase ini, keimanan yang sudah tumbuh, ditambahkan melalui dialog, cerita, dan penguatan harapan kepada Allah.
Bentuk implementasi:
– Menceritakan kisah para nabi dan orang shalih
– Penjelasan sederhana tentang pahala dan janji Allah
– Mengaitkan ketaatan dengan keberkahan hidup.
Allah ﷻ berfirman:
فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا ..
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia beramal shalih….”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Mahabbah melahirkan Raja’ (harapan) yang membuat anak bersemangat berbuat baik karena berharap pahala dan ridha Allah, bukan sekadar takut ancaman atau hukuman.
- Fase Murahaqoh (10-14 tahun)
Bahasa: Bahasa Tangan – Khauf (Takut yang Mendidik)
Pada fase menjelang baligh, anak mulai diuji dengan tanggung jawab dan dorongan nafsu. Tauhid diperkuat melalui disiplin, konsekuensi, dan kesadaran akan pengawasan Allah.
Bentuk implementasi:
– Pembiasaan ibadah yang konsisten
– Penegakan aturan dengan adil
– Penanaman rasa muraqabah (merasa diawasi Allah).
Allah ﷻ berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ
فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ
“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Khauf di fase ini bukan menakut-nakuti anak, tetapi menumbuhkan tanggung jawab spiritual. Khouf yang tumbuh terlahir dari roja’, dan mahabbah.
Mari sejenak kita flashback bagaimana metode pendidikan kita saat ini.
Anak-anak diceramahi dengan lisan, jika tidak dituruti diberi hukuman.
Dari usia dini anak sudah dijejalkan berbagai hafalan, dituntut untuk bisa calistung.
Jika anak-anak tidak mampu, anak justru dipaksa dengan ancaman, direndahkan harga dirinya dengan ejekan atau sindiran, bahkan dihukum dengan memberikan time out atau tidak menyandera barang favoritnya atau mainan.
Jika pendidikan anak seperti itu, kapankah proses penumbuhan iman?
Maka lemahnya umat islam saat ini dikarenakan ada satu proses paling fondasi yang terlupakan, yaitu penumbuhan iman.
Karena iman tauhid adalah inti risalah para nabi dan tujuan utama penciptaan manusia.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat:56)
Pendidikan iman adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan sesuai tahapan.
Bahkan Rasulullah ﷺ menghabiskan waktu 13 tahun untuk mendakwahkan tentang tauhid sebelum penegakan syariat secara sempurna di Madinah. Iman ditanam terlebih dahulu hingga menghujam di hati para sahabat. Maka, dalam pendidikan anak, iman harus menjadi fondasi utama.
Lalu bagaimana jika anak terlanjur salah metode?
Bisa dilakukan dengan perbaikan karakter iman atau Recovery.
Bagaimana proses recovery? Yaitu mengulang urutannya dari awal lagi.
Mari membaca dan menadaburi kalimat kauniyah Allah di alam. Ketika saya kuliah dulu saya mempelajari kultur jaringan, yaitu teknik memperbanyak tanaman bukan dari benih tapi dari bagian tubuh lainnya seperti batang dan daun tanaman. Secara fitrahnya, proses tanaman tumbuh dari biji yang berkecambah, lalu berakar, muncul tunas, batang, daun, lalu berbuah. Ketika tanaman dikulturkan dari batang atau daun, tanaman tersebut bukannya langsung melanjutkan pertumbuhannya dengan memperbanyak daun atau melanjutkan berbuah. Di sinilah pelajaran penting yang Allah sampaikan melalui ayat-ayat KauniyahNya. Ketika pertumbuhannya dipaksa langsung dari batang atau daun, tanaman tersebut menghentikan urutan proses sebagaimana mestinya. Nutrisi dan zat hara difokuskan untuk satu hal yang penting, satu hal yang menjadi penentu hidup dan matinya tanaman tersebut, yaitu akar.
Pun dengan pendidikan anak. Sejauh apapun urutan yang dipangkas atau terlewati, insyaa Allah tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali. Mulailah kembali pada urutannya. Karena perbuatan baik bisa menghapuskan perbuatan buruk.
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Maka, ketika bahasa hati terlewat berikanlah bahasa hati itu walaupun terkesan terlambat. Insyaa Allah sesi TeMu HCE berikutnya akan lebih dalam membahas tentang bahasa hati, yaitu Pendidikan Cinta: Menyingkap Kondisi Hati.
Semoga Allah memudahkan kita semua menyimak dan mengambil hikmah lebih dalam tentang kondisi hati.
Sebagai penutup, izinkan saya berbagi Untaian kalimat hikmah untuk kita hayati yang ditulis oleh guru saya, Bunda Khusna ummu Hubbi hafidzahallahu ta’ala
KAMI AJARKAN HURUF, TAPI LUPA MENUMBUHKAN HATI
📖 𝓘𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓐𝓵𝓵𝓪𝓱 𝓣𝓪’𝓪𝓵𝓪 𝓫𝓮𝓻𝓯𝓲𝓻𝓶𝓪𝓷:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
> ❝ Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? ❞
(QS.Muhammad: 24)
Kami ajarkan huruf sebelum rasa,
mengeja ayat sebelum cinta bersemi.
Lidah fasih menyebut nama-Nya,
namun hati tak tahu
kepada siapa ia berdiri.
Kami banggakan anak yang khatam,
tapi tak resah saat ia lalai.
Kami puas pada suara yang merdu,
namun sunyi pada makna
yang tak pernah masuk ke jiwa.
Kami paksa anak memikul ayat,
padahal pundaknya belum kuat iman.
Kami gantungkan target dan prestasi,
sebelum ia sempat jatuh cinta
kepada Rabb yang ia ibadahi.
Kami ajarkan Al-Qur’an sebagai bunyi,
bukan sebagai petunjuk hidup.
Kami sibuk merapikan tajwid,
tapi membiarkan iman
tumbuh tanpa akar.
Lalu kami heran,
mengapa sholatnya hampa,
mengapa akhlaknya keras,
mengapa ayat tak menahan tangan dari dosa.
Padahal kami sendiri
yang memotong urutannya.
Sahabat belajar iman
sebelum ayat menjadi beban.
Anak-anak kita memikul ayat,
sebelum iman sempat tumbuh.
Kami ingin mereka takut kepada Allah,
padahal belum pernah kami ajari
bagaimana rasanya dicintai Allah.
Kami ingin mereka taat,
padahal belum pernah kami beri waktu,
untuk mengenal siapa yang ditaati.
Wahai orang tua, wahai guru…
Ini bukan soal cepat atau lambat.
Ini soal hidup atau matinya perjalanan hati.
Karena Al-Qur’an
tidak turun untuk sekadar dibaca,
tetapi untuk menghidupkan jiwa.
Dan iman…,
tidak tumbuh dari paksaan,
tetapi dari cinta yang dituntun dengan hikmah.
La haula wa la quwwata illa billah….
Khusna Ummu Hubbi
𝓑𝓪𝓪𝓻𝓪𝓴𝓪𝓵𝓵𝓪𝓱𝓾 𝓕𝓲𝓲𝓴𝓾𝓶 🌻
Demikian sedikitnya materi yang bisa saya sampaikan. Segala yang benar dari Allah dan segala kesalahan murni keterbatasan dan kekhilafan saya. Saya mohon ampunan kepada Allah dan meminta maaf kepada teman-teman semua atas segala kesalahan saya.
Syukron jazaakillahu khayran atas waktu dan kesempatannya. Saya memohon kepada Allah agar yang sedikit ini ada manfaatnya untuk dunia dan akhirat kita.
Barakallahu fiikum.
Wassalamu’alaykum wa rohmatullah wa barokaatuh
SETIAP ANAK HEBAT
Bahagia Beriman, Berilmu, Beramal
┈•┈• •┈•┈
Baarakallah fiikum
Membangun Karakter Ummat – Menebar Manfaat.
Jadilah bagian dari Sekolah Orang Tua Ayah Bunda Hebat [SOTAB HEBAT Indonesia] Sekarang !
Hubungi kami untuk Join Whatsapp Grup👇🏻


Leave A Comment