Bijak dalam Menyikapi Keterbatasan Anak

41 | Bijak dalam Menyikapi Keterbatasan Akal Anak

Mendidik Hati

┏━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┓
Mendidik Hati
┗━━━━ ༺♥༻ ༺♥༻ ━━━━┛
𝐇𝐨𝐦𝐞 𝐨𝐟 𝐂𝐡𝐚𝐫𝐚𝐜𝐭𝐞𝐫 𝐄𝐝𝐮𝐜𝐚𝐭𝐢𝐨𝐧
الأم مدرسة الأولى
𝐀𝐥-𝐔𝐦𝐦𝐮 𝐌𝐚𝐝𝐫𝐚𝐬𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐔𝐥𝐚

Bijak dalam Menyikapi Keterbatasan Akal Anak

Bijak dalam Menyikapi Keterbatasan Akal Anak

Kadang tanpa sadar, orang tua ingin anaknya segera “mengerti segalanya.”

Kita ingin mereka cepat paham, cepat mandiri, cepat beradab.

Padahal, terburu-buru dalam mendidik justru bisa membuat hati anak kehilangan rasa aman untuk belajar.

Sebagaimana pohon yang tumbuh perlahan di bawah cahaya matahari dan siraman hujan, demikianlah Allah menumbuhkan akal dan jiwa anak: melalui proses, bukan paksaan.

Allah Ta‘ala Maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dalam sekejap mata. Namun, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyām).

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”

(QS. الأعراف: ٥٤)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan alam secara bertahap karena butuh waktu, melainkan *sebagai pendidikan bagi manusia* , bahwa segala sesuatu di dunia ini berjalan dengan *proses dan tahapan.*

Ibn Katsir menjelaskan:

وَلَوْ شَاءَ لَخَلَقَهَا فِي لَحْظَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنَّمَا فَعَلَ ذَلِكَ لِيُعَلِّمَ خَلْقَهُ التَّأَنِّي فِي الْأُمُورِ

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menciptakannya dalam sekejap. Namun Allah melakukannya bertahap agar mengajarkan kepada makhluk-Nya untuk bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam urusan.”*

(Tafsir Ibn Katsir, 3/432)

Demikian pula manusia. Allah menjadikan kehidupan dan pertumbuhannya bertahap: dari janin menjadi bayi, lalu anak, remaja, hingga dewasa.

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ

“Dia menciptakan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.”

(QS. الزمر: ٦)

Begitu pula dengan perkembangan akal anak.

Tidak mungkin kita mengajarkan ilmu waris kepada anak yang baru bisa berhitung, atau memaksa anak yang belum mampu membedakan baik dan buruk untuk memahami ajaran berat yang butuh nalar matang.

Memaksakan sesuatu di luar jangkauan akalnya bukan tanda cinta, melainkan bentuk ketidaktahuan terhadap fitrahnya.

Pepatah mengatakan *“belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu,”* namun kita sering lupa , *ukiran pun perlu disesuaikan dengan permukaan batunya.*

Jika terlalu keras menekan, bukan terbentuk tulisan indah, melainkan batu yang retak.

Para sahabat Nabi ﷺ banyak yang memeluk Islam di usia dewasa, namun mereka menjadi generasi terbaik. Karena ilmu yang mereka terima datang di saat yang tepat ,*ketika akal dan hati telah siap menampungnya.*

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada kita untuk memahami bahwa anak-anak *belum berdosa* dan masih berada dalam masa latihan kehidupan.

Beliau bersabda:

> *رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ**

> *“Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sadar.”*

> (HR. أبو داود no. 4399, الترمذي no. 1423 – shahih)

Maka kesalahan anak bukanlah dosa, melainkan *proses belajar.*

Ia sedang berlatih mengenal batas, sedang belajar tentang sebab dan akibat.

Tugas kita bukan menghukumnya, tapi menuntunnya dengan lembut.

Imam An-Nawawi رحمه الله menulis dalam *Syarh Shahih Muslim*:

> *أَمَّا الصَّبِيُّ فَإِنَّهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَلَكِنَّ وَلِيَّهُ يَتَحَمَّلُ تَبِعَةَ أَفْعَالِهِ إِذَا أَضَرَّ بِغَيْرِهِ*

> *“Adapun anak kecil, maka tidak ada dosa atasnya. Namun walinya menanggung tanggung jawab atas perbuatannya jika menimbulkan mudarat bagi orang lain.”*

> (Syarh Muslim, 18/22)

Rasulullah ﷺ sendiri menjadi contoh terbaik dalam mendidik dengan kasih dan hikmah.

Ketika beliau sedang shalat, cucu beliau ( Hasan dan Husain ) menaiki punggung beliau. Para sahabat menyangka beliau lupa karena sujudnya lama. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ bersabda:

> *إِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ*

> *“Sesungguhnya anakku naik ke punggungku, maka aku tidak ingin memutus kesenangannya hingga ia puas.”*

> (HR. أحمد no. 17152 – shahih)

Betapa lembutnya beliau. Tidak menurunkan cucunya, tidak menegur, bahkan tidak marah karena mereka mengganggu shalat.

Beliau memahami bahwa *masa anak-anak adalah masa bermain, bukan masa dihakimi.*

Anas bin Malik رضي الله عنه, yang hidup bersama Rasulullah sejak kecil, bersaksi:

> *خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَهُ؟*

> *“Aku telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku, tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang aku lakukan ‘Mengapa engkau melakukannya?’ dan terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan ‘Mengapa engkau tidak melakukannya?’”*

> (HR. مسلم no. 2309)

Beliau tidak “overnasihat”, tidak menumpuk koreksi, karena beliau tahu bahwa *akal dan hati anak hanya bisa tumbuh dalam suasana kasih sayang dan penerimaan.*

Allah pun berfirman:

> *ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَن*

> *“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”*

> (QS.النحل: ١٢٥)

Maka dakwah ( termasuk dakwah kita kepada anak-anak ) bukan sekadar nasihat dan teguran.

Ia adalah *hikmah yang diwujudkan lewat teladan, kesabaran, dan kelembutan.*

Karena hati anak lebih mudah tersentuh oleh cinta & kasih sayang daripada oleh kata-kata.

Sungguh, sebagaimana Allah menumbuhkan alam dengan bertahap, begitu pula Ia menumbuhkan akal dan jiwa anak kita setahap demi setahap.

Tugas kita bukan mempercepat, tapi menemani.

Bukan memaksa, tapi menuntun.

Dan sungguh, bunga yang mekar pada waktunya akan jauh lebih indah daripada yang dipaksa terbuka sebelum saatnya. 🌸

Referensi:

– Kajian ustadz Abdullah Zaen – Bijak dalam menyikapi keterbatasan akal anak

*Bijak dalam Menyikapi Keterbatasan Akal Anak*

Kadang tanpa sadar, orang tua ingin anaknya segera “mengerti segalanya.”
Kita ingin mereka cepat paham, cepat mandiri, cepat beradab.
Padahal, terburu-buru dalam mendidik justru bisa membuat hati anak kehilangan rasa aman untuk belajar.

Sebagaimana pohon yang tumbuh perlahan di bawah cahaya matahari dan siraman hujan, demikianlah Allah menumbuhkan akal dan jiwa anak: *melalui proses, bukan paksaan.*

Allah Ta‘ala Maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu dalam sekejap mata. Namun, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (*sittati ayyām*).

> *قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:*
> *إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ*
> *“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”*
> (QS. *الأعراف: ٥٤*)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan alam secara bertahap karena butuh waktu, melainkan *sebagai pendidikan bagi manusia* , bahwa segala sesuatu di dunia ini berjalan dengan *proses dan tahapan.*

Ibn Katsir menjelaskan:

> *وَلَوْ شَاءَ لَخَلَقَهَا فِي لَحْظَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنَّمَا فَعَلَ ذَلِكَ لِيُعَلِّمَ خَلْقَهُ التَّأَنِّي فِي الْأُمُورِ*
> *“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menciptakannya dalam sekejap. Namun Allah melakukannya bertahap agar mengajarkan kepada makhluk-Nya untuk bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam urusan.”*
> (Tafsir Ibn Katsir, 3/432)

Demikian pula manusia. Allah menjadikan kehidupan dan pertumbuhannya bertahap: dari janin menjadi bayi, lalu anak, remaja, hingga dewasa.

> *يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ*
> *“Dia menciptakan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.”*
> (QS. **الزمر: ٦**)

Begitu pula dengan *perkembangan akal anak.*
Tidak mungkin kita mengajarkan ilmu waris kepada anak yang baru bisa berhitung, atau memaksa anak yang belum mampu membedakan baik dan buruk untuk memahami ajaran berat yang butuh nalar matang.

Memaksakan sesuatu di luar jangkauan akalnya bukan tanda cinta, melainkan bentuk ketidaktahuan terhadap fitrahnya.
Pepatah mengatakan *“belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu,”* namun kita sering lupa , *ukiran pun perlu disesuaikan dengan permukaan batunya.*
Jika terlalu keras menekan, bukan terbentuk tulisan indah, melainkan batu yang retak.

Para sahabat Nabi ﷺ banyak yang memeluk Islam di usia dewasa, namun mereka menjadi generasi terbaik. Karena ilmu yang mereka terima datang di saat yang tepat ,*ketika akal dan hati telah siap menampungnya.*

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada kita untuk memahami bahwa anak-anak *belum berdosa* dan masih berada dalam masa latihan kehidupan.
Beliau bersabda:

> *رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ**
> *“Pena (catatan amal) diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sadar.”*
> (HR. أبو داود no. 4399, الترمذي no. 1423 – shahih)

Maka kesalahan anak bukanlah dosa, melainkan *proses belajar.*
Ia sedang berlatih mengenal batas, sedang belajar tentang sebab dan akibat.
Tugas kita bukan menghukumnya, tapi menuntunnya dengan lembut.

Imam An-Nawawi رحمه الله menulis dalam *Syarh Shahih Muslim*:

> *أَمَّا الصَّبِيُّ فَإِنَّهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَلَكِنَّ وَلِيَّهُ يَتَحَمَّلُ تَبِعَةَ أَفْعَالِهِ إِذَا أَضَرَّ بِغَيْرِهِ*
> *“Adapun anak kecil, maka tidak ada dosa atasnya. Namun walinya menanggung tanggung jawab atas perbuatannya jika menimbulkan mudarat bagi orang lain.”*
> (Syarh Muslim, 18/22)

Rasulullah ﷺ sendiri menjadi contoh terbaik dalam mendidik dengan kasih dan hikmah.
Ketika beliau sedang shalat, cucu beliau ( Hasan dan Husain ) menaiki punggung beliau. Para sahabat menyangka beliau lupa karena sujudnya lama. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ bersabda:

> *إِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ*
> *“Sesungguhnya anakku naik ke punggungku, maka aku tidak ingin memutus kesenangannya hingga ia puas.”*
> (HR. أحمد no. 17152 – shahih)

Betapa lembutnya beliau. Tidak menurunkan cucunya, tidak menegur, bahkan tidak marah karena mereka mengganggu shalat.
Beliau memahami bahwa *masa anak-anak adalah masa bermain, bukan masa dihakimi.*

Anas bin Malik رضي الله عنه, yang hidup bersama Rasulullah sejak kecil, bersaksi:

> *خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ فَعَلْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَهُ؟ وَلِشَيْءٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَهُ؟*
> *“Aku telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku, tidak pernah berkata terhadap sesuatu yang aku lakukan ‘Mengapa engkau melakukannya?’ dan terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan ‘Mengapa engkau tidak melakukannya?’”*
> (HR. مسلم no. 2309)

Beliau tidak “overnasihat”, tidak menumpuk koreksi, karena beliau tahu bahwa *akal dan hati anak hanya bisa tumbuh dalam suasana kasih sayang dan penerimaan.*

Allah pun berfirman:

> *ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَن*
> *“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”*
> (QS.النحل: ١٢٥)

Maka dakwah ( termasuk dakwah kita kepada anak-anak ) bukan sekadar nasihat dan teguran.
Ia adalah *hikmah yang diwujudkan lewat teladan, kesabaran, dan kelembutan.*
Karena hati anak lebih mudah tersentuh oleh cinta & kasih sayang daripada oleh kata-kata.

Sungguh, sebagaimana Allah menumbuhkan alam dengan bertahap, begitu pula Ia menumbuhkan akal dan jiwa anak kita setahap demi setahap.
Tugas kita bukan mempercepat, tapi menemani.
Bukan memaksa, tapi menuntun.

Dan sungguh, bunga yang mekar pada waktunya akan jauh lebih indah daripada yang dipaksa terbuka sebelum saatnya. 🌸

Referensi:
– Kajian ustadz Abdullah Zaen – Bijak dalam menyikapi keterbatasan akal anak

𝐇𝐂𝐄 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

𝗛𝗼𝗺𝗲 𝗼𝗳 𝗖𝗵𝗮𝗿𝗮𝗰𝘁𝗲𝗿 𝗘𝗱𝘂𝗰𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻

SETIAP ANAK HEBAT
Bahagia Beriman, Berilmu, Beramal
┈•┈• 🍀🪷🪷🪷🍀•┈•┈

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *